SEKATO.ID – Satu persatu dari berbagai negara mulai menghentikan sementara penggunaan vaksin AstraZeneca. Kementerian Kesehatan Jerman mengumumkan langkah penghentian tersebut pada Senin (15/3), diikuti pula oleh Italia, Prancis dan Spanyol. Beberapa negara Uni Eropa lainnya telah mengambil tindakan serupa lebih awal karena ditemukan kasus terjadinya pembekuan darah.
Mengutip dari dw.com, Menteri Kesehatan Jerman Jens Spahn menjelaskan dalam sebuah briefing, keputusan itu adalah keputusan profesional, bukan politis. Risiko penggumpalan darah dari suntikan AstraZeneca tergolong rendah, tapi tidak bisa dikesampingkan.
“Menyusul adanya laporan baru tentang trombrosis pembuluh darah otak sehubungan dengan vaksinasi di Jerman dan Eropa, PEI menganggap penyelidikan lebih lanjut diperlukan,” demikian pengumuman dari Kementrian Kesehatan Jerman.
Sementara itu di Indonesia, melansir dari tribunnews.com, melalui Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny Kusumastuti Lukito menyampaikan, pemerintah memutuskan menunda pendistribusian dan penggunaan vaksin AstraZeneca sebagai upaya kehatian-hatian.
Pemerintah saat ini sedang membuka komunikasi dengan organisasi lintas negara, seperti Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Badan Pengawas Obat Inggris (MHRA), maupun Otoritas Kesehatan Eropa (EMA) terkait hasil pemeriksaan dan kajian terkait vaksin AstraZeneca.
“Untuk kehati-hatian, kami masih dalam proses berkomunikasi dengan WHO dan SAGE. Kemudian, hasil komunikasi tersebut akan dibahas tim lintas sektor. Tentunya juga dengan Kemenkes, untuk diputuskan soal penggunaan AstraZenca dalam vaksinasi nasional. Harapannya tidak terlalu lama,” tutur Penny dalam rapat kerja dengan Komisi IX DPR, Senin (15/3).
Namun, ia memastikan bahwa nomor kode pembuatan Astrazeneca yang ditunda oleh negara-negara akibat isu penggumpalan darah, berbeda dengan vaksin AstraZeneca jalur multilateral yang tiba di Indonesia pada Senin pekan lalu.
“Kami bisa melihat bahwa, nomor batch yang saat ini ditangguhkan penggunaanya di beberapa negara Uni Eropa, tidak termasuk pada nomor batch yang masuk Indonesia,” ucapnya.












Discussion about this post