SEKATO.ID, KERINCI – Keresahan petani Depati Tujuh akhirnya menemukan jawaban. Di tengah hamparan sawah yang mulai merekah retak, pertanda kekeringan yang mengancam masa depan panen, pemerintah kecamatan bergerak cepat. Merespons keluhan petani terkait keringnya areal persawahan akibat minimnya aliran Air Irigasi Sekungkung, Camat Depati Tujuh bersama Badan Penyuluhan Pertanian (BPP) Depati Tujuh turun langsung ke lapangan, Senin (26/01/2026).
Langkah ini bukan sekadar kunjungan seremonial. Di bawah terik matahari, Camat dan tim menyusuri saluran irigasi, berdialog langsung dengan petani yang menggantungkan hidup dari setiap tetes air yang mengalir ke sawah mereka. Kekhawatiran akan gagal panen begitu terasa, namun di saat yang sama, harapan kembali menyala.
Dari hasil peninjauan lapangan dan musyawarah bersama petani, disepakati sejumlah langkah teknis yang segera diterapkan sebagai solusi konkret. Langkah pertama, dilakukan pembukaan pintu air utama dengan menaikkan tinggi bukaan dari sebelumnya 75 sentimeter menjadi 1 meter, guna meningkatkan debit air yang mengalir ke jaringan irigasi.
Langkah kedua, pemerintah kecamatan menyepakati penambahan pintu air Sekungkung. Upaya ini ditujukan agar distribusi air ke wilayah persawahan Tebat Ijuk dan Belui dapat berlangsung lebih merata, menjangkau sawah-sawah yang selama ini kerap menjadi titik rawan kekeringan.
Tak berhenti di situ, langkah ketiga yang disepakati adalah penerapan pola buka-tutup pintu air Sekungkung dan pintu air Semumu secara terkoordinasi. Skema ini dirancang agar aliran air dapat dibagi secara adil dan berkesinambungan, sehingga tidak ada lagi sawah yang terpaksa dibiarkan kering.
Camat Depati Tujuh, Indra Hermawan, menegaskan bahwa kehadiran pemerintah harus dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Kami tidak ingin hanya mendengar keluhan tanpa tindakan. Ketika petani kesulitan, pemerintah wajib hadir, turun ke lapangan, dan mencarikan solusi secepat mungkin,” tegasnya.
Dengan kolaborasi lintas sektor, sinergi pemerintah dan penyuluh pertanian, serta keterlibatan aktif para petani, pemerintah kecamatan optimistis krisis air ini dapat segera teratasi. Di Depati Tujuh, aliran air bukan sekadar urusan irigasi, ia adalah urat nadi kehidupan. Dan ketika pemerintah bergerak cepat, harapan petani untuk panen dan kesejahteraan pun kembali mengalir.
(Rgk)












Discussion about this post