• Sekato
  • Disclaimer
  • Kode Etik
  • Pedoman
  • Redaksi
  • Perlindungan
  • BUDAYA
  • DAERAH
  • DUNIA
  • EKONOMI
  • HIBURAN
  • HUKUM
  • KOMUNITAS
  • LINGKUNGAN
  • NASIONAL
  • OLAHRAGA
  • OPINI
  • PEMERINTAHAN
  • PLESIRAN
  • POLITIK
  • RAGAM
  • SAINS
Umum dan Segalanya
No Result
View All Result
Umum dan Segalanya
No Result
View All Result
  • BUDAYA
  • DAERAH
  • DUNIA
  • EKONOMI
  • HIBURAN
  • HUKUM
  • KOMUNITAS
  • LINGKUNGAN
  • NASIONAL
  • OLAHRAGA
  • OPINI
  • PEMERINTAHAN
  • PLESIRAN
  • POLITIK
  • RAGAM
  • SAINS

3 dari 10 Orang AS Hadapi Isu Kesehatan Mental Akibat Pendemi Berkepanjangan

Editor Ara Permana Putra
21/02/2022
in DUNIA, RAGAM
A A
0
PostTweetSendShareScan

SEKATO.ID | JAKARTA – Setelah dua tahun, pandemi virus corona tampaknya mulai menimbulkan dampak serius pada kesehatan mental orang di Amerika, dengan semakin banyak orang yang menderita berbagai masalah, mulai dari kecemasan hingga depresi.

Hampir dua tahun isolasi dan penyakit terkait pandemi COVID-19 telah menimbulkan dampak, tidak saja dalam hal kematian dan gejala yang tersisa, tetapi juga pola mikir kita.

Nirmita Panchal di Kaiser Family Foundation mengatakan, “Sebelum pandemi, sekitar 1 dari 10 orang dewasa melaporkan kecemasan dan gangguan depresi. Kini penelitian terbaru kami menunjukkan sekitar 3 dari 10 orang dewasa melaporkan gejala-gejala ini.”

Orang dewasa yang bekerja dan memiliki tanggung jawab paling besar tampaknya menjadi yang paling terpengaruh pandemi ini.

Direktur Program Trauma di Universitas Palo Alto, Lisa Brown, mengatakan, “Kami kerap merujuk mereka sebagai generasi roti lapis – atau ‘sandwich generation’ – karena mereka terperangkap diantara anak-anak kecil dan anak-anak remaja mereka, juga orang tua mereka. Pada dasarnya mereka berupaya menyeimbangkan antara pekerja dengan merawat orang tua yang memiliki kebutuhan lebih banyak karena isolasi hubungan sosialnya, dan tentunya anak-anak mereka sendiri. Mungkin mereka, masih harus atau tidak, mendidik anak-anak di rumah, sambil mengatur kehidupan sosial mereka sendiri.”

Trauma Kolektif

Baca juga

Tragedi Penembakan Siswa SD di Texas, Joe Biden Singgung Industri Senjata

18 Siswa Sekolah Dasar di Texas Tewas Tertembak

Hati-hati Menggunakan Smartphone Terlalu Lama Jika Tak Ingin Kesehatan Mental Menurun

Respon BNPT Terhadap WNI yang Disanksi AS Atas Dugaan Terlibat dengan Kelompok ISIS

Wapres AS Hingga Bos Facebook dan Wartawan Terdaftar Dilarang Masuk Rusia Selamanya

Tetapi sesungguhnya para psikolog mengatakan pandemi menimbulkan dampak pada semua orang.

Sebagian besar orang di Amerika memiliki kerabat dekat atau teman yang meninggal dunia karena COVID-19, atau menderita kasus yang sangat parah; banyak yang kehilangan pekerjaan; anak-anak lebih banyak melewatkan waktu bersama teman sebaya, sementara anak-anak yang lebih remaja tidak bisa merayakan hari terakhir sekolah dengan ‘prom dance.’ Tingkat perceraian juga naik.

Para pakar menyebut semua ini sebagai “trauma kolektif,” dan salah satu alasan utama di balik semua ini adalah ketidakpastian.

Peneliti isu trauma di University of California di Irvine, Roxane Cohen Silver, mengatakan, “Ketika terjadi serangan teroris 11 September, atau musibah badai dan tornado, ada tanggal awal dan akhir kejadian. Apa yang dilakukan orang-orang setelah peristiwa-peristiwa itu adalah mencoba membangun kembali kehidupan mereka, mencoba pulih secara emosional. Dari apa yang kami lihat dalam fenomena terjadinya pandemi kali ini, tidak ada awal yang jelas, tidak ada waktu yang pasti kapan pandemi akan berakhir. Ini adalah stress yang kronis.”

Cara Standar Atasi Kecemasan Tak Berhasil

Para pakar mengatakan dalam pandemi Covid-19 ini, cara-cara standar untuk melawan kecemasan tidak berhasil. Nasihat yang sering diberikan kepada orang yang merasa sedih, misalnya agar mereka bertemu dengan lebih banyak teman, bepergian atau melakukan perjalanan, mengunjungi orang tua, dan menjelajahi tempat-tempat baru – sama sekali tidak aman selama pandemi.

Peneliti isu kecemasan di Ohio State University, Cheryl Carmin mengatakan, “Dan bagaimana melakukannya ketika informasi yang berasal dari CDC, atau individu-individu yang memiliki informasi pasti, atau badan-badan pengambil kebijakan mengatakan ‘jangan pergi ke tempat ramai!’ Atau jika Anda suka musik, saran yang disampaikan justru ‘jangan pergi nonton konser, jangan ke bioskop, jangan ke gereja atau sinagog!’ karena ini semua adalah tempat-tempat di mana banyak orang berkumpul. Meskipun nasihat-nasihat ini mungkin berguna untuk mengatasi pandemi, tetapi sumber daya itu tidak ada.”

Para psikolog sendiri mengalami kesulitan yang sama dengan yang dialami orang lain.

Pakar trauma di Universitas Palo Alto, Profesor Lisa Brown mengatakan ia mencoba sebanyak mungkin berhubungan dengan teman dan orang-orang yang dicintainya.

“Inilah saatnya menjangkau orang lain . Saya punya banyak teman di kampus yang sudah lama tidak saya ajak bicara, dan mereka kemudian juga menelpon saya. Hal ini benar-benar membuat saya merasa senang dan bahagia. Saya sangat senang mereka berupaya menelpon saya. Mari kita saling bertelpon. Mari tetap berhubungan. Mari saling berkirim surat,” ujarnya.

Tetapi para pakar juga mengatakan trauma ini tidak akan berakhir secara tiba-tiba, bahkan ketika pembatasan sosial terkait Covid-19 sudah dicabut. Perlu waktu bertahun-tahun untuk mengatasi dampak psikologis pandemi ini, tambah mereka.

Sumber: voaindonesi.com

Tags: Amerika SerikatASKesehatan Mental
Previous Post

Pemkab Batanghari Rencanakan Akan Beli Tanah di Belakang RSUD Hamba

Next Post

Pemerintah Buka Lagi Program Kartu Prakerja untuk 500 Ribu Peserta

Artikel terkait

RAGAM

TNI Fun Run 2026 Menggelegar di Jambi, Ribuan Pelari Bersatu Semarakkan HUT ke-81 TNI

27/09/2026
2k
RAGAM

Milad ke-60, KAHMI Muaro Jambi Soroti Karhutla dan Masa Depan Lingkungan

26/09/2026
2k
RAGAM

Pemkot Jambi Serahkan Santunan JKM Rp42 Juta kepada Ahli Waris Ketua RT 54

24/09/2026
2k
RAGAM

Agrobiopori, Strategi Pemkot Jambi Perkuat Pangan dari Lahan Pekarangan

21/09/2026
2k
RAGAM

Sambut HUT Ke-81 TNI, Korem 042/Gapu Gelar Donor Darah, Sunatan Massal dan Pengobatan Gratis

20/09/2026
2k
Next Post

Pemerintah Buka Lagi Program Kartu Prakerja untuk 500 Ribu Peserta

Satgas Covid-19 Tingat RT Berharap Dapat Intensif Dari Pemkot Jambi

Korban Penipuan Binomo Gelar Aksi Damai Depan Mabes Polri

H Muslim Hadiri Peluncuran Hari Pemungutan Suara Pemilu Serentak 2024

Masih Adanya Bangunan Madrasah Tidak Layak, Kemenang Tanjab Barat:  Administrasi Tidak Lengkap

Discussion about this post

Kalender

September 2026
SMTWTFS
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930 
« Aug    

Populer

    DISCLAIMER | KODE ETIK | PEDOMAN MEDIA SIBER | REDAKSI | SOP PERLINDUNGAN WARTAWAN

    © 2024 SEKATO.ID - Jalan HM Yusuf Singedekane, Lorong Purnawira, No 7, RT 21, Telanaipura, Kota Jambi. Kode Pos 36122. Developed by Ara.

    • Sekato
    • Disclaimer
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Redaksi
    • Perlindungan

    © 2020 Sekato - Jalan HM Yusuf Singedekane, Lorong Purnawira, No 7, RT 21, Telanaipura, Kota Jambi. Kode Pos 36122. Developed by Ara.

    Mami188 | Vip555 | Dewi11 | Megasloto | Mega777 | Dewihoki | Mega338 | Megawin188 | Koko5000 | Ledak388 | Mega288 | Surga11 | Bighoki | Visitorbet | Rajalangit77 | Surga77 | Maxwin288 | Nagawin | Koko303 | Apigacor88 | Surga88 | Musangwin | Katakwin | Purislot | Indobet | Ratu303 | Surgaplay | Megawin777 | Supraslot | Semutwin | Interwin | Vip288 | Dewi288 | Ganas33 | Ovo88 | Satset138 | Api5000 | Mamen123 | Api33 | Vip333 | Kombo88 | Api88 | Megawin288 | Tumi123