Oleh: Amri Ikhsan (Pendidik di Madrasah)
TIDAK bisa dipungkiri, ketidakjujuran tampaknya sering terjadi di kalangan siswa: menyontek dalam ujian, menyontek pada tugas rumah, menyalin hasil jawaban selama uji¬an, membawa dan menggunakan contekan ke ruang ujian, saling mengkomunikasikan jawaban, mengizinkan jawabannya dijiplak orang lain (Prayoga & Qudsyi, 2015).
Perilaku seperti ini dapat dikatakan sebagai perilaku yang tidak menunjukkan integritas seseorang. Integritas ini dapat dimak¬nai sebagai adanya kesatuan antara pola pikir, perasaan, ucapan, dan perilaku yang selaras dengan hati nurani dan norma yang berlaku (LPPM, 2017).
Seseorang dikatakan memiliki integritas, ketika orang tersebut jujur dengan diri sendiri dan berpegang teguh pada nilai-nilai moral diri sendiri (Schiller & Bryant, 2002). Sebenarnya, bersikap jujur sangat mudah diimplementasikan dalam kehidupan sehari hari: sikap apa adanya, tidak berpura-pura, tidak berbohong, bekerja sesuai aturan, tidak curang dalam kegiatan apapun, dan memperlakukan orang lain secara adil, dll.
Sikap integritas dan kejujuran idealnya dipunyai oleh setiap orang. Siswa merupakan salah satu aktor utama pelanjut pembangunan bangsa harus menjadi sikap ini sebagai basis dalam menuntut ilmu. Dalam konteks tertentu, khususnya dalam ‘mengejar’ nilai tinggi, masih ditemukan sikap ‘menghalalkan’ segala cara. Ini mengindikasikan integritas sebagaian siswa masih dipertanyakan.
Ketidakjujuran akademik menurut Bowers (Kushartanti, 2009) adalah perilaku yang menggunakan cara-cara tidak sah untuk mencapai ha¬sil yang sah. Memang harus ada usaha untuk menimalisir ketidakjujuran di sekolah. Ada pakar yang menawarkan Self-monitoring, bagaimana seseorang mengatur, bertindak, dan mengontrol dirinya sendiri pada situasi sosial. Ada juga yang mengintervensi dengan nilai nilai agama atau religius, mengingat religiusitas menjadi salah satu faktor yang memengaruhi ketidakjujuran akademik (McCabe & Tre¬vino, 1997).
Agama sangat disarankan digunakan guru untuk ‘membenahi’ integritas siswa dalam proses pembelajaran. Bisa dikatakan ‘agama’ salah satu yang ‘paling ditakutkan’ oleh siswa. Penelitian Carter, McCullough, dan Carver (2012) menyebutkan bahwa orang dengan tingkat religiusitas yang tinggi cenderung mampu meman¬tau dirinya. Orang-orang ‘yang beragama’ memiliki kekuatan yang lebih besar yang sedang mengawasi mereka, dimana hal ini mengarah pada pengendalian diri yang lebih baik dan kemampuan kontrol diri yang baik.
Dalam agama Islam, konsep ‘pengawasan’ ini sering disebut muraqabah. Muraqabah dapat di¬artikan sebagai suatu kesadaran yang dimiliki oleh seorang muslim akan pengawasan Allah di setiap waktu dimana hal ini bersumber dari keimanan seorang muslim yang tumbuh dari sifat-sifat Allah (Ilyas, 2001). Muraqabah bisa dimanfaatkan guru sebagai modal untuk menghalangi siswa untuk tidak berbuat sesuatu yang sesuai dengan norma akademik.
Muraqabah merupakan suatu keyakinan yang dimiliki seseorang bahwa Allah SWT senantiasa mengawasinya, melihatnya, mendengarnya, dan mengetahui segala apapun yang dilakukannya dalam setiap waktu, setiap saat, setiap nafas atau setiap kedipan mata sekalipun (Qayyim) meskipun kita sendiri tidak menyadarinya. Ini perlu digalakkan dikalangan siswa agar tumbuh generasi mudah yang berintegritas tinggi.
Dengan ber-muraqabah, seseorang senantiasa merasa seakan-akan Allah SWT selalu melihat dan selalu memperhatikan kepadanya dari tingkah laku kita perkataan kita sampai kritik isi hati kita (Ibnu qayyim). Seperti kita melihat ada CCTV, kita harus hati-hati dalam bersikap karena sikap kita dapat dilihat oleh orang lain melalui rekaman CCTV itu.
Semakin sering orang bermuraqabah, semakin sadarlah ia bahwa dirinya masih memiliki banyak kekurangan dan kelemahan. Kesadaran ini akan melahirkan tindakan positif untuk memperbaiki segala kelemahan yang dimiliki dan senantiasa terus berbuat yang terbaik untuk dirinya dan orang lain.
Salah satu aspek penting perlu didorong dalam pembelajaran untuk siswa adalah menumbuhkan perasaan diawasi oleh Allah. Dengan perasaan bahwa Allah selalu mengawasi, siswa akan segera kembali ke jalan yang benar dengan bersikap jujur selama pembelajaran. Siswa akan terjaga dari ketidakjujuran dan senantiasa patuh pada aturan yang berlaku.
Membiasakan siswa untuk senantiasa merasa diawasi oleh Allah akan memunculkan semangat untuk senantiasa berbuat jujur dalam kondisi apapun. Siswa tidak akan pernah tergiur untuk berbuat curang walaupun tidak ada guru atau orang yang melihat. Dia akan menolak setiap tawaran ‘kecurangan’.
Pada intinya, sikap ini mencerminkan keseriusan siswa dalam belajar dengan sepenuh hati, tanpa keraguan, tanpa kebimbangan, bahwa Allah senantiasa mengawasi setiap gerak-geriknya, setiap langkahnya, setiap pandangannya, setiap pendengarannya, setiap yang terlintas dalam hatinya, bahkan setiap keinginannya yang belum terlintas dalam dirinya yang berhubungan dengan penilaian.
Dalam menjalankan proses pembelajaran dan penilaian, siswa selalu menjaga adab-adab terhadap Allah, beradab kepada guru dan temannya. Orang yang mengabaikan muraqabah akan memunculkan sifat negatif: mencari kesempatan untuk berbuat kecurangan, tidak takut merugikan orang lain, tidak takut azab yang nyata dan berani melakukan perbuatan dosa meski banyak orang yang melihatnya (PB).
Dalam konteks tertentu, berbuat curang itu merugikan orang lain, membuat orang kehilangan kesempatan untuk mendapat atau meraih sesuatu karena perbuatan kita. Yang paling ‘berbahaya’ adalah apabila kecurangan yang kita buat menzholimi orang lain, membuat orang lain menderita.
Sejarah mencatat bahwa banyak raja raja zaman dulu yang sirik atau mempersekutukan Allah swt tapi tidak mendapat azab didunia: Firaun, Raja Namrud, Umat Nabi Luth, Umat Nabi Nuh. Karena memang Allah swt maha pemaaf. Dizaman sekarang banyak orang tidak sholat, tidak puasa, tidak berzakat. Allah swt tidak menghukum mereka minimal di dunia.
Lain halnya bila mereka menzholimi orang lain, Firaun menzholimi Nabi Musa dan umatnya, Raja Namrud menzholimi Nabi Ibrohim dan umatnya, langsung Allah swt menurunkan azab untuk orang orang itu.
Oleh karena itu, guru memang harus berinisiatif menjadikan muraqabah sebagai jembatan untuk membuat siswa lebih berintegritas. Siswa jujur dan berintegritas, guru sudah berdakwah ikhlas untuk pembelajaran berkelas.












Discussion about this post