• Sekato
  • Disclaimer
  • Kode Etik
  • Pedoman
  • Redaksi
  • Perlindungan
  • BUDAYA
  • DAERAH
  • DUNIA
  • EKONOMI
  • HIBURAN
  • HUKUM
  • KOMUNITAS
  • LINGKUNGAN
  • NASIONAL
  • OLAHRAGA
  • OPINI
  • PEMERINTAHAN
  • PLESIRAN
  • POLITIK
  • RAGAM
  • SAINS
Umum dan Segalanya
No Result
View All Result
Umum dan Segalanya
No Result
View All Result
  • BUDAYA
  • DAERAH
  • DUNIA
  • EKONOMI
  • HIBURAN
  • HUKUM
  • KOMUNITAS
  • LINGKUNGAN
  • NASIONAL
  • OLAHRAGA
  • OPINI
  • PEMERINTAHAN
  • PLESIRAN
  • POLITIK
  • RAGAM
  • SAINS

Hidup di Era AI:  Menguasai atau Dikuasai?

Oleh: Bahren Nurdin (Penagamat Sosial)

Editor Miftahurrahmah
15/09/2026
in OPINI
A A
0
PostTweetSendShareScan

 

SEKATO.ID, JAMBI  –  Kita boleh tidak suka dengan artificial intelligence (AI). Kita boleh khawatir, curiga, bahkan takut pekerjaan kita akan diambil alih. Tetapi ada satu hal yang rasanya sulit kita lakukan: menghindarinya.

AI hari ini sudah seperti telepon genggam. Dulu orang mungkin bertanya, “Untuk apa punya handphone?” Sekarang pertanyaannya justru berubah menjadi, “Bagaimana hidup tanpa handphone?” Begitu pula AI. Kedatangannya bukan sesuatu yang bisa kita tolak. Ia akan terus berkembang dan masuk ke hampir semua ruang kehidupan.

Karena itu, yang paling penting bukan menolak AI, tetapi menerimanya dengan pikiran terbuka dan literasi yang baik. Dengan cara inilah kita akan menguasainya bukan dikuasai. AI harus kita tempatkan sebagai tools, sebagai alat bantu. Bukan sebagai pengganti manusia.

Seorang mahasiswa boleh menggunakan ChatGPT untuk membantu merapikan tulisan. Seorang dosen boleh menggunakannya untuk mengembangkan bahan ajar. Seorang ibu rumah tangga dapat memanfaatkannya untuk mencari ide usaha. Seorang pejabat dapat menggunakannya untuk mengolah data dan menyusun berbagai alternatif kebijakan. Tetapi satu hal tidak boleh diserahkan kepada mesin: menjadi manusia itu sendiri.

Apa yang tidak boleh digantikan AI? Ide. Gagasan. Critical thinking. Kepekaan. Dan terutama hati.

Baca juga

Asap dan Keadilan

Stabilitas Moneter: Awal Transformasi Ekonomi Daerah Jambi

Memaknai Hari Pajak: Membangun Kepatuhan, Bukan Ketakutan untuk Masa Depan Ekonomi Indonesia dan Tantangan Jambi

Ketika Daya Saing Daerah Direduksi Menjadi Satu Proyek

Pelabuhan Ujung Jabung dan Masa Depan Industri Jambi

Jack Ma pernah menggunakan ungkapan sederhana: “Machines have chips, humans have hearts.” Mesin mempunyai chip, manusia mempunyai hati. Bagi saya, kalimat ini sangat penting untuk memahami masa depan AI. Adalah malapetaka jika manusia menggunakan AI tanpa hati. Dia akan dikuasai oleh AI itu sendiri.

Ingat, AI dapat mengolah ribuan data kemiskinan. Tetapi apakah AI dapat merasakan bagaimana seorang ibu harus memilih antara membeli beras atau membayar biaya sekolah anaknya? AI dapat membaca data pengangguran. Tetapi kita yang berhadapan dengan anak-anak muda yang kehilangan harapan karena berkali-kali gagal mendapatkan pekerjaan.

Data dapat diolah oleh AI. Tetapi makna di balik data itu tetap membutuhkan manusia yang mampu melihat, merasakan, dan berpikir.

Karena itu, saya membayangkan kerja sama manusia dan AI ke depan bukan sebagai pertarungan manusia melawan mesin. Bukan pula manusia menyerahkan semuanya kepada mesin. Kita membutuhkan model kerja sama yang lebih cerdas. Sederhananya begini: biarkan AI membantu otak kita bekerja lebih cepat, tetapi hati tetap kita kendalikan sendiri.

Jadi, pertanyaannya bukan lagi manusia atau mesin. Pertanyaannya adalah, manusia seperti apa yang mampu hidup berdampingan atau menguasai mesin yang semakin cerdas? Sebab, masa depan bukan milik manusia yang menolak mesin. Bukan pula milik mereka yang menyerahkan seluruh hidupnya kepada mesin. Masa depan adalah milik mereka yang mampu menggunakan kecerdasan mesin tanpa kehilangan kecerdasan manusia. Intinya, manusia tetap tidak boleh kalah dari mesin.

Di sinilah letak tantangan kita. AI boleh semakin pintar, tetapi manusia tidak boleh kehilangan akal, rasa, dan hati. Mesin boleh membantu kita menemukan jawaban, tetapi manusialah yang harus menentukan pertanyaan apa yang layak diajukan dan untuk siapa jawaban itu digunakan. Selanjtunya, pilihan tetap di tangan kita; mau menguasai atau dikuasai?

Kita memberikan ide dan gagasan. AI membantu mencari informasi, mengolah data, menyusun alternatif, merangkai kalimat, bahkan menerjemahkan pikiran kita agar dapat dipahami lebih luas. Tetapi arah, nilai, keberpihakan, dan keputusan akhirnya tetap berada di tangan manusia.

Inilah literasi AI yang sesungguhnya. Bukan sekadar pandai menggunakan ChatGPT atau aplikasi AI lainnya, tetapi tahu kapan harus menggunakannya, untuk apa menggunakannya, dan kapan harus mengatakan: “Tidak, bagian ini adalah tanggung jawab saya sebagai manusia.”

Jika otak manusia dan kemampuan mesin dapat bekerja bersama, sementara hati manusia tetap menjadi kompasnya, saya kira kita tidak perlu terlalu takut menghadapi masa depan. Justru sebaliknya. Di sanalah kekuatan dahsyat itu mungkin lahir: mesin membantu kita bekerja lebih cerdas, sementara manusia memastikan kecerdasan itu tetap digunakan untuk kemanusiaan.

Tags: Bahren Nurdinopini
Previous Post

DPRD Kota Jambi Setujui Perubahan APBD 2026, Belanja Daerah Tembus Rp1,992 Triliun

Next Post

Perkuat Aksi Iklim dan Transisi Energi, Kota Jambi Raih Penghargaan The Most Improved City WWF

Artikel terkait

NASIONAL

Ombudsman RI Ungkap Titik Rawan Maladministrasi yang Berpotensi Korupsi pada Layanan Pertanahan dan Kebencanaan

21/10/2026
2k
Oplus_16908288
OPINI

Sebelum Kenyang Pastikan Mereka Bersekolah

06/10/2026
2k
OPINI

Asap dan Keadilan

17/09/2026
2k
OPINI

Stabilitas Moneter: Awal Transformasi Ekonomi Daerah Jambi

10/08/2026
2k
OPINI

Memaknai Hari Pajak: Membangun Kepatuhan, Bukan Ketakutan untuk Masa Depan Ekonomi Indonesia dan Tantangan Jambi

14/07/2026
2k
Next Post

Perkuat Aksi Iklim dan Transisi Energi, Kota Jambi Raih Penghargaan The Most Improved City WWF

Pemkot Jambi Perkuat Perlindungan Perempuan dan Anak, Nadiyah Ajak Masyarakat “Lihat, Peduli, Cegah, dan Lindungi”

Komisi I DPRD Kota Jambi Minta Andrew’s Party Mart Tunda Operasional, Izin Klub Malam Disorot

Sampah Kota Jambi Capai 450 Ton Sehari, DPRD Desak Kepastian Proyek Pengolahan di Talang Gulo

Kualitas Udara Sangat Tidak Sehat, Pemkot Jambi Perpanjang PJJ Jenjang TK Hingga SMP 

Discussion about this post

Kalender

October 2026
SMTWTFS
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
« Sep    

Populer

    DISCLAIMER | KODE ETIK | PEDOMAN MEDIA SIBER | REDAKSI | SOP PERLINDUNGAN WARTAWAN

    © 2024 SEKATO.ID - Jalan HM Yusuf Singedekane, Lorong Purnawira, No 7, RT 21, Telanaipura, Kota Jambi. Kode Pos 36122. Developed by Ara.

    • Sekato
    • Disclaimer
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Redaksi
    • Perlindungan

    © 2020 Sekato - Jalan HM Yusuf Singedekane, Lorong Purnawira, No 7, RT 21, Telanaipura, Kota Jambi. Kode Pos 36122. Developed by Ara.

    Mami188 | Vip555 | Dewi11 | Megasloto | Mega777 | Dewihoki | Mega338 | Megawin188 | Koko5000 | Ledak388 | Mega288 | Surga11 | Bighoki | Visitorbet | Rajalangit77 | Surga77 | Maxwin288 | Nagawin | Koko303 | Apigacor88 | Surga88 | Musangwin | Katakwin | Purislot | Indobet | Ratu303 | Surgaplay | Megawin777 | Supraslot | Semutwin | Interwin | Vip288 | Dewi288 | Ganas33 | Ovo88 | Satset138 | Api5000 | Mamen123 | Api33 | Vip333 | Kombo88 | Api88 | Megawin288 | Tumi123