SURABAYA – Kongres Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) XXXI di Surabaya berjalan ricuh. Peserta memorakporandakan kursi forum kongres, beberapa pintu kaca gedung juga dilaporkan pecah, di Gedung Islamic Center Surabaya, Selasa (23/3) malam.
Ketua Umum Badko HMI Jawa Timur Yogi Pratama membenarkan kejadian tersebut. Ia mengatakan, sejumlah peserta kongres yang mengamuk itu lantaran tak terima usulannya tak disepakati oleh mayoritas peserta kongres.
“Yang memperlambat itu meminta badko se-Indonesia hadir ke lokasi, itu kan tidak mungkin,” kata Yogi, Selasa (23/3) malam, dikutip dari CNN.com.
Ia menyebut hal itu diduga dilakukan oleh sekitar lima orang peserta kongres. Menurutnya mereka sejak beberapa hari lalu sengaja memperlambat jalannya sidang kongres.
“Minta badko se-Indonesia itu dihadirkan. Dari 20 badko, sudah ada 12 di Surabaya. Kita enggak tahu badko yang berhalangan entah sakit atau ada urusan lain kan enggak bisa dipaksakan untuk hadir,” ucapnya.
Belum ada peserta kongres yang dilaporkan mengalami luka akibat kejadian tersebut. HMI, kata dia, juga siap bertanggung jawab atas segala kerusakan yang terjadi.
“Belum ada laporan peserta yang terluka akibat peristiwa tadi,” terang dia.
Sebanyak 6 Orang Peserta Kongres Diamankan Polda Jawa Timur
Polda Jawa Timur mengamankan enam orang peserta Kongres XXXI HMI.
Kapolda Jatim Irjen Pol Nico Afinta mengatakan, enam orang itu diamankan berdasarkan permintaan pihak panitia kongres HMI sendiri. Keenamnya kini tengah diperiksa lebih lanjut.
“Ada miskomunikasi di antara mereka, kemudian ada yang membanting kursi, ini atas permintaan panitia, kami amankan enam orang dan sekarang masih dalam pemeriksaan,” kata Nico di lokasi kongres, Rabu (24/3) pagi.
Selain mengamankan jalannya kongres. Nico mengatakan pihaknya juga melakukan penjagaan di luar arena kongres. Sebab, diketahui terdapat rombongan seribuan kader HMI nonpeserta kongres, asal Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat yang datang ke Surabaya.
Mereka terus menerus mencoba masuk ke arena kongres sejak beberapa hari lalu. Namun polisi menghadang, dengan alasan untuk menjaga protokol kesehatan didalam Gedung Islamic Center.
“Kami melakukan pendekatan kami bagi dengan bantuan Ibu Gubernur, Pangdam, Pangko Al dan Danlanud AU di sini. Alhamdulillah rombongan bisa turut mengerti dan mengamankan kota Surabaya baik dari keamanan maupun Covid-19,” ucap dia.
Soal agenda kongres yang molor, Nico mengatakan pihak panitia telah mengajukan permohonan penambahan waktu selama sehari ke kepolisian dan Pemprov Jatim.
“Itu berdasarkan permintaan dari pihak panitia, untuk menambah satu hari, karena masih ada beberapa yang belum selesai. Sehingga permintaan itu disampaikan kepada polisi, dan Ibu Gubernur, Pangdam dan saya mendukung,” ucapnya.











Discussion about this post