• Sekato
  • Disclaimer
  • Kode Etik
  • Pedoman
  • Redaksi
  • Perlindungan
  • BUDAYA
  • DAERAH
  • DUNIA
  • EKONOMI
  • HIBURAN
  • HUKUM
  • KOMUNITAS
  • LINGKUNGAN
  • NASIONAL
  • OLAHRAGA
  • OPINI
  • PEMERINTAHAN
  • PLESIRAN
  • POLITIK
  • RAGAM
  • SAINS
Umum dan Segalanya
No Result
View All Result
Umum dan Segalanya
No Result
View All Result
  • BUDAYA
  • DAERAH
  • DUNIA
  • EKONOMI
  • HIBURAN
  • HUKUM
  • KOMUNITAS
  • LINGKUNGAN
  • NASIONAL
  • OLAHRAGA
  • OPINI
  • PEMERINTAHAN
  • PLESIRAN
  • POLITIK
  • RAGAM
  • SAINS
Mantan narapidana terorisme, Haris Amir Falah.

Mantan narapidana terorisme, Haris Amir Falah.

Kisah Ex Terorisme Haris Falah, Dari Paham Radikal Kini Islam Moderat

Haris Falah: Perubahan bisa dilakukan dari masing-masing orang.

Editor Ara Permana Putra
03/04/2021
in RAGAM, SAINS
A A
0
PostTweetSendShareScan

SEKATO.ID – Haris Amir Falah pria yang akrab dipanggil Ustad Haris ini pernah terjebak pada pemikiran radikal. Ia pernah menjalani hidup di balik jeruji penjara selama 4,5 tahun akibat percobaan makar. Proses panjang mengenali Islam sebagai agama pembawa rahmat dan toleran ditemui setelah menerima hukuman penjara.

Pemikiran radikal tersebut telah menyusupi sejak dia duduk di bangku kelas 2 SMA. Pada 1984, guru matematikanya mengenalkan pemikiran radikal sehingga membuat Haris memantapkan diri untuk bergabung dengan kelompok tersebut.

“Setelah diajak, saya lantas mengikuti pengajian mereka dengan pembinaan utama selama tiga hari. Setelah itu saya mendapatkan doktrin-doktrin radikal secara terus menerus. Hingga pada hari ketiga saya memutuskan untuk hijrah ke dalam kelompok tersebut,” ungkap Haris pada Selasa (18/2/2020), dikutp dari Jawa Pos.

Sejak aktif dalam kegiatan kelompok tersebut ia dianggap belum menjadi Islam karena belum pernah bersyahadat. Untuk membuktikan keislamannya, Haris kemudian mengambil sumpah syahadat bersama anggota kelompok tersebut.

“Dan sejak itu, sikap saya terhadap orang yang tidak bersyahadat bersama saya, meski dia muslim, adalah kafir. Saya selalu menarik garis pada mereka, bahwa meski mereka Islam, namun, mereka bukan Islam menurut saya,” katanya.

Mengkafir-kafirkan orang yang berbeda golongan merupakan hal biasa baginya. Bahkan dia pernah menganggap harta orang selain kelompoknya halal untuk dicuri.

Baca juga

Cegah Radikalisme, Densus 88 Satgaswil Jambi Bersama Stake Holder Terkait Adakan Sosialisasi di Kerinci

Polsek Astanaanyar Bandung di Bom

Respon BNPT Terhadap WNI yang Disanksi AS Atas Dugaan Terlibat dengan Kelompok ISIS

Tahun 2021, Kemenkumham Catat 122 Napi Terorisme Berikrar Setia Kepada NKRI

Wapres Pinta Kampus Waspada Pengaruh Liberalisme, Sekularisme dan Radikalisme yang Masuk ke Mahasiswa

“Saya biasa mengambil harta orang dan menjadikannya sebagai kekayaan jamaah. Karena pandangan saya saat itu saya merampas dari orang kafir. Dan hal tersebut saya lakukan sampai sekitar akhir 2009,” katanya.

Haris mulai mengenal Islam yang toleran ketika mengikuti Kongres Mujahidin di Jogjakarta tahun 2010. Konsep berjuang menegakkan syariat lingkup Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan mengedepankan dialog dan diplomasi menggugah dirinya. Akhirnya ia sadar, berjuang dengan konsep radikal justru mendatangkan lebih banyak mudharat.

“Sekarang orang akan lebih tertarik. Bahwa Islam itu tidak seperti sebagaimana yang saya pelajari dulu. Islam menjadi agama pembawa rahmat dan toleran,” katanya.

Selama menjalani bui di penjara, dia mengenal berbagai macam orang dan juga didatangi aparat keamanan negara. Di sana Haris menemukan nilai-nilai Islam yang lebih toleran.

“Semangat saya tetap sama. Bagaimana cara mencegah berkembangnya pemikiran-pemikiran radikalisme yang akhirnya memunculkan sikap intoleran terhadap keadaan yang ada,” katanya.

Haris optimistis, meski sudah ada masyarakat yang terpapar, mereka masih bisa berubah. Perubahan itu bisa diusahakan oleh masing-masing orang. Meski stigma miring masyarakat masih melekat terhadapnya, Haris tetap konsisten menyebarkan kebaikan. Baik melalui forum diskusi ilmiah maupun bedah buku.

“Saya mencoba menulis perubahan pemikiran dan sikap saya tentang ajaran Islam. Dari paham yang ekstrem dan radikal menjadi moderat,” katanya.

Haris mengamini jika dia pernah menjadi ketua Lajnah Perwakilan Jakarta, Majelis Mujahidin Indonesia pada 2001-2008, Amin Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) pada 2008-2010, Amin Jamaah Ansharut Syariah (JAS) Jakarta pada 2013-2016. Selain itu dia pernah menjadi pembina Lembaga Dawah Thoriquna 2017 hingga sekarang menjadi pendidik di SMP Darul Ma’arif Jakarta dan SMA Negeri 46 Jakarta.

Secara terpisah, pengamat pergerakan Islam Amir Mahmud mengatakan, radikal bisa dibagi dalam tiga hal yakni, lisan dengan ujaran kebencian, perilaku dengan melakukan kekerasan, dan bentuk ekstrem yang ingin mengubah tatanan nilai bangsa.

“Radikalisme itu seseorang atau kelompok yang melakukan paham radikal. Mereka bukan Islam dan Islam bukan radikalisme,” katanya.

Tags: Bom Bunuh DiriHaris FalahRadikalismeTerorisme
Previous Post

Bupati Anwar Sadat Bekukan Aktifitas PT PWS dan Minta Ganti Rugi

Next Post

Pengampunan dan Pintu Surga Jadi Alasan Anak Muda Terlibat Terorisme

Artikel terkait

DAERAH

Pelangsiran BBM Bersubsidi Terus Terulang, Publik Pertanyakan Efektivitas Pengawasan di Kerinci dan Sungai Penuh

02/07/2026
2k
RAGAM

PUPR Kota Jambi Genjot 240 Paket Jalan Lingkungan, Ditargetkan Rampung November 2026

30/06/2026
2k
RAGAM

Selamat Datang Jamaah Haji Batang Hari, Disambut Meriah di Serambi Rumah Dinas Bupati, yang Telah menunaikan ibadah Rukun Islam Kelima di Tanah Suci

27/06/2026
2k
RAGAM

Melihat Lebih Dekat Operasi Hulu Migas, FJM Jambi Diajak Pahami Keselamatan hingga Penanganan Kebakaran

23/06/2026
2k
RAGAM

Kapolda Jambi Apresiasi Aksi “Jurnalis Sapa Polantas” Sambut Hari Bhayangkara

15/06/2026
2k
Next Post
FOTO: Modest.id

Pengampunan dan Pintu Surga Jadi Alasan Anak Muda Terlibat Terorisme

FOTO: Ruang Muslimah

Pengamat Jelaskan Faktor Keterlibatan Perempuan Dalam Terorisme

FOTO: 123rf.com

Kelompok Teroris Rekrut Anak Muda Gunakan Media Sosial

FOTO: Berbagai sumber

Kominfo Widodo Muktiyo Bagikan 10 Cara Berinteraksi Di Media Sosial

FOTO: Shutterstock

5 Tips Supaya Suami Tidak Tergoda Pelakor

Discussion about this post

Kalender

July 2026
SMTWTFS
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031 
« Jun    

Populer

    DISCLAIMER | KODE ETIK | PEDOMAN MEDIA SIBER | REDAKSI | SOP PERLINDUNGAN WARTAWAN

    © 2024 SEKATO.ID - Jalan HM Yusuf Singedekane, Lorong Purnawira, No 7, RT 21, Telanaipura, Kota Jambi. Kode Pos 36122. Developed by Ara.

    • Sekato
    • Disclaimer
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Redaksi
    • Perlindungan

    © 2020 Sekato - Jalan HM Yusuf Singedekane, Lorong Purnawira, No 7, RT 21, Telanaipura, Kota Jambi. Kode Pos 36122. Developed by Ara.

    Mami188 | Vip555 | Dewi11 | Megasloto | Mega777 | Dewihoki | Mega338 | Megawin188 | Koko5000 | Ledak388 | Mega288 | Surga11 | Bighoki | Visitorbet | Rajalangit77 | Surga77 | Maxwin288 | Nagawin | Koko303 | Apigacor88 | Surga88 | Musangwin | Katakwin | Purislot | Indobet | Ratu303 | Surgaplay | Megawin777 | Supraslot | Semutwin | Interwin | Vip288 | Dewi288 | Ganas33 | Ovo88 | Satset138 | Api5000 | Mamen123 | Api33 | Vip333 | Kombo88 | Api88 | Megawin288 | Tumi123