Sekato.id,Batang Hari – Revitalisasi kawasan cagar budaya Tembesi didorong bukan sekadar untuk memperbaiki bangunan bersejarah. Pemerintah Kabupaten Batang Hari melihat kawasan tersebut sebagai bagian penting dari upaya menyelamatkan identitas sejarah daerah sekaligus membangun fondasi bagi kehadiran museum sejarah Kabupaten Batang Hari.
Wakil Bupati Batang Hari, H. Bakhtiar, melakukan audiensi dengan Direktur Warisan Sejarah Kementerian Kebudayaan RI, Agus Widiatmoko, untuk membahas revitalisasi cagar budaya di kawasan Benteng Tembesi.
Pertemuan tersebut menjadi tindak lanjut dari audiensi Pemkab Batang Hari dengan Kementerian Kebudayaan RI. Salah satu simpul penting yang muncul adalah percepatan proses administratif dan teknis agar Pasar Kota Lama Tembesi dapat diusulkan dan ditetapkan sebagai Cagar Budaya Tingkat Nasional.
REVITALISASI BISA MENGUBAH WAJAH KAWASAN SEJARAH
Jika proses tersebut berjalan sesuai tahapan, dampaknya tidak berhenti pada terjaganya bangunan atau kawasan lama.
Revitalisasi dapat menjadi instrumen untuk menghidupkan kembali kawasan bersejarah sebagai ruang edukasi, destinasi budaya, dan bagian dari identitas daerah.
Karena itu, keberhasilan revitalisasi akan sangat bergantung pada kualitas kajian, ketepatan perencanaan, serta kemampuan menjaga karakter sejarah kawasan. Bangunan dan lingkungan bersejarah tidak cukup hanya dibuat tampak baru, tetapi harus tetap memiliki keterhubungan dengan nilai sejarah yang melekat di dalamnya.
MUSEUM SEJARAH MENJADI BAGIAN DARI EKOSISTEM
Rencana museum sejarah Kabupaten Batang Hari kemudian memiliki posisi strategis dalam rangkaian tersebut.
Museum dapat menjadi ruang untuk mendokumentasikan, menyimpan, dan memperkenalkan berbagai peninggalan serta narasi sejarah Batang Hari. Sementara kawasan cagar budaya menjadi ruang sejarah yang dapat dilihat dan dipahami secara langsung.
Dengan konsep tersebut, museum dan kawasan cagar budaya dapat saling menguatkan: museum menjadi pusat dokumentasi dan edukasi, sedangkan kawasan bersejarah menjadi bagian dari pengalaman sejarah secara langsung.
DAMPAKNYA BISA MENYENTUH MASYARAKAT
Revitalisasi kawasan bersejarah juga berpotensi memberikan dampak yang lebih luas apabila dirancang secara berkelanjutan.
Kawasan yang tertata dan memiliki nilai sejarah dapat dikembangkan sebagai ruang kunjungan budaya, kegiatan edukasi, serta aktivitas masyarakat. Dalam jangka panjang, hal tersebut dapat membuka peluang keterlibatan pelaku UMKM, ekonomi kreatif, pemandu wisata, komunitas sejarah, hingga sektor pendukung lainnya.
Namun, seluruh potensi tersebut membutuhkan perencanaan yang matang. Revitalisasi tidak boleh berhenti pada proyek fisik.
Yang harus dibangun adalah ekosistemnya: sejarahnya terlindungi, kawasan terawat, masyarakat terlibat, generasi muda mengenal sejarahnya, dan museum memiliki fungsi nyata.
DARI CAGAR BUDAYA MENUJU IDENTITAS BATANG HARI
Karena itu, percepatan status cagar budaya menjadi tahapan strategis. Pemerintah daerah membutuhkan pendampingan pemerintah pusat dalam penyusunan kajian, kelengkapan administrasi, proses penetapan, hingga perencanaan teknis revitalisasi.
Jika tahapan tersebut terealisasi, revitalisasi kawasan Tembesi bukan hanya menyelamatkan peninggalan masa lalu.
Ini adalah upaya menjadikan sejarah sebagai aset daerah untuk pendidikan, kebudayaan, pariwisata, dan penguatan identitas Batang Hari di masa depan.
Dan di balik rencana pembangunan museum sejarah, ada pekerjaan yang jauh lebih mendasar: memastikan jejak peradaban Batang Hari tidak hilang sebelum sempat diwariskan kepada generasi berikutnya.(TN)












Discussion about this post