• Sekato
  • Disclaimer
  • Kode Etik
  • Pedoman
  • Redaksi
  • Perlindungan
  • BUDAYA
  • DAERAH
  • DUNIA
  • EKONOMI
  • HIBURAN
  • HUKUM
  • KOMUNITAS
  • LINGKUNGAN
  • NASIONAL
  • OLAHRAGA
  • OPINI
  • PEMERINTAHAN
  • PLESIRAN
  • POLITIK
  • RAGAM
  • SAINS
Umum dan Segalanya
No Result
View All Result
Umum dan Segalanya
No Result
View All Result
  • BUDAYA
  • DAERAH
  • DUNIA
  • EKONOMI
  • HIBURAN
  • HUKUM
  • KOMUNITAS
  • LINGKUNGAN
  • NASIONAL
  • OLAHRAGA
  • OPINI
  • PEMERINTAHAN
  • PLESIRAN
  • POLITIK
  • RAGAM
  • SAINS

Tunidi; Petani Agroforestri yang berdampingan dengan Gajah di Taman Nasional Bukit Tigapuluh

Editor Ara Permana Putra
31/12/2024
in LINGKUNGAN
A A
0
PostTweetSendShareScan

SEKATO.ID, JAMBI  – Pagi baru saja menyapa, ketika Tunidi, seorang petani kopi dan karet, melangkah keluar dari rumahnya di Desa Semambu, Kecamatan Sumay, Kabupaten Tebo, Jambi.

Di tengah kabut tipis yang menyelimuti Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT), ia memulai rutinitasnya dengan penuh semangat.

Tangannya cekatan memetik buah kopi merah ranum sambil memastikan pohon-pohon karet di kebunnya tetap bersih dari dedaunan kering.

“Kopi bisa melindungi lahan karet dari jamur akar putih dan membuatnya lebih bersih. Selain itu, gajah juga tidak suka tanaman kopi, jadi ini cara kami untuk bisa berdampingan dengan mereka,” ungkap Tunidi dengan senyum tipis.

Untuk menghindari dari serangan nyamuk di kawasan ini, ada cerita lain. Tunidi punya trik sederhana, ia mengikat sebuah kaleng kecil ke pinggangnya, dimana obat nyamuk bakar diletakkan. Asap dari kaleng itu cukup efektif mengusir serangga-serangga pengganggu.

Namun, bagi Tunidi, bercocok tanam bukan hanya soal panen dan hasil. Ada tantangan unik yang ia hadapi; berbagi ruang hidup dengan gajah liar.

Baca juga

Membangun Harapan Petani Karet di Kabupaten Tebo: Antara Gajah, Sawit, dan Karet

Kopi Arabica Asal Kerinci Juara di KKSI XIII 2021

Inovasi UMKM, Kulit Kopi Menjadi Kulit Sintetis

Warga Inhil Riau Diserang Gajah dari Jambi Saat Akan Ambil Foto

Kopi Robusta Jangkat Akan Didorong Jadi Komoditi Ekspor Asal Merangin

Tunidi, pria berusia 37 tahun, memilih menjalankan sistem agroforestri dengan mengombinasikan kopi dan karet di lahan pertaniannya. Pilihan ini bukan tanpa alasan. Menurutnya, kopi bukanlah tanaman yang disukai oleh gajah, berbeda dengan sawit yang kerap menjadi sasaran hewan besar itu.

Tunidi memiliki cara unik dalam membudidayakan kopi di kebunnya. Awalnya, ia menanam bibit kopi liberika yang terkenal tahan terhadap serangan jamur akar putih. Setelah pohon kopi tumbuh, ia memotong batangnya di bagian tengah dan menyambungnya dengan pohon kopi robusta.

“Liberika itu tahan terhadap jamur akar putih, makanya saya sambung dengan pohon kopi robusta. Hasilnya jadi lebih tahan terhadap hama, tapi kualitasnya tetap robusta,” jelas Tunidi.

Hasil inovasi ini ternyata membuahkan kopi robusta yang tidak hanya sehat, tetapi juga memiliki nilai ekonomi tinggi. Saat ini, 1 kilogram biji kopi robusta yang sudah dikeringkan dihargai Rp50 ribu, sedangkan buah kopi merah dihargai Rp10 ribu per kilogram.

Tunidi merupakan anggota Kelompok Tani Harapan Jaya yang berkolaborasi bersama dengan WWF. Bibit kopi pertama yang ditanamnya berasal dari bantuan organisasi tersebut.Dalam prosesnya, Tunidi dan kelompoknya menyadari pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.

Meskipun hasil panen kopi mereka belum dijual secara luas, Tunidi optimis dengan masa depan. Ia berharap ke depannya agroforestri ini dapat meningkatkan pendapatan keluarganya sekaligus menjaga ekosistem TNBT.

“Kopi ini bukan cuma soal hasil, tapi juga bagaimana kami bisa hidup berdampingan dengan gajah dan menjaga lingkungan,” tuturnya penuh harap.

Menurut Tunidi, menanam kopi di antara pohon karet memiliki banyak keuntungan. Selain menghalau jamur akar putih pada karet, kopi juga membantu melindungi lahan dari angin kencang. Kombinasi ini menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat untuk kedua tanaman.

“Kopi juga mampu menjadikan lahan karet kita menjadi lebih bersih dan tidak lembab”, ujarnya.

Kini, dengan pohon karetnya yang telah berusia 10 tahun, Tunidi semakin yakin bahwa langkahnya mengadopsi sistem agroforestri adalah keputusan yang tepat.

“Kalau kopi terus ditanam, saya yakin penghasilan kami akan lebih baik,” katanya.

Meski perjalanan masih panjang, Tunidi tidak gentar. Ia percaya bahwa kopi adalah solusi yang menjanjikan, tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, tetapi juga untuk menjaga keberlangsungan alam.

Dengan semangat yang terus menyala, ia melanjutkan langkahnya sebagai petani agroforestri, menghadapi tantangan dengan tangan terbuka dan hati penuh harapan.

Untuk diketahui, agroforestri adalah sistem pengelolaan lahan yang mengombinasikan penanaman pohon dengan tanaman pertanian dan/atau peternakan dalam satu lahan yang sama. Tujuan utama dari agroforestri adalah meningkatkan produktivitas, keberlanjutan, dan keberagaman ekosistem pertanian dengan memanfaatkan interaksi positif antara komponen kehutanan dan pertanian.

Miftahurrahmah

Tags: GajahKopiPetani AgroforestriTaman Nasional Bukit Tigapuluh
Previous Post

Hasil Evaluasi Smart City Tahap II Kabupaten Batang Hari Tertinggi di Propinsi Jambi

Next Post

Tutup Tahun 2024 H.Murison Tunaikan Ibadah Umroh

Artikel terkait

LINGKUNGAN

Bapemperda DPRD Jambi Kaji Peluang Karbon dan Wisata Alam dalam Ranperda Tahura

18/06/2026
2k
LINGKUNGAN

Danrem Ditunjuk Pimpin Operasi Karhutla Jambi, Fokus Cegah Terulangnya Asap dan ISPA

10/06/2026
2k
DAERAH

Proyek Tanggul Rp12,9 Miliar di Sungai Batang Merao Disorot Tajam, Warga: Jangan Sampai Ini Jadi Monumen Pemborosan Uang Negara

08/06/2026
2k
Oplus_16908288
DAERAH

Dari Toilet Rp10 Ribu hingga Hadiah Kontroversial, Asia MX Kerinci Cup Banjir Kritik dan Kepercayaan Pembalap Terancam Hilang

01/06/2026
2k
Oplus_16908288
DAERAH

Gerak Cepat Jalankan Instruksi Bupati, Camat Depati Tujuh Gandeng Mahasiswa dan Kades Belui pilah Sampah Organik dan Non Organik

19/05/2026
2k
Next Post

Tutup Tahun 2024 H.Murison Tunaikan Ibadah Umroh

Oplus_131072

Awali Tahun Baru 2025, Monadi Kunjungi Peternak Itik Koto Majidin

Berkolaborasi Dengan Universitas Jambi, HImsak Sukses Gelar Fusako Fest

Kunjungi Tempat Pengolahan Sampah, Monadi, Masalah Sampah di Kerinci Bisa Teratasi Dengan Cepat dan Tuntas

Wujud Kepedulian, LSM Semut Merah Salurkan Bantuan Sosial di Desa Pulau Pandan

Discussion about this post

Kalender

July 2026
SMTWTFS
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031 
« Jun    

Populer

    DISCLAIMER | KODE ETIK | PEDOMAN MEDIA SIBER | REDAKSI | SOP PERLINDUNGAN WARTAWAN

    © 2024 SEKATO.ID - Jalan HM Yusuf Singedekane, Lorong Purnawira, No 7, RT 21, Telanaipura, Kota Jambi. Kode Pos 36122. Developed by Ara.

    • Sekato
    • Disclaimer
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Redaksi
    • Perlindungan

    © 2020 Sekato - Jalan HM Yusuf Singedekane, Lorong Purnawira, No 7, RT 21, Telanaipura, Kota Jambi. Kode Pos 36122. Developed by Ara.

    Mami188 | Vip555 | Dewi11 | Megasloto | Mega777 | Dewihoki | Mega338 | Megawin188 | Koko5000 | Ledak388 | Mega288 | Surga11 | Bighoki | Visitorbet | Rajalangit77 | Surga77 | Maxwin288 | Nagawin | Koko303 | Apigacor88 | Surga88 | Musangwin | Katakwin | Purislot | Indobet | Ratu303 | Surgaplay | Megawin777 | Supraslot | Semutwin | Interwin | Vip288 | Dewi288 | Ganas33 | Ovo88 | Satset138 | Api5000 | Mamen123 | Api33 | Vip333 | Kombo88 | Api88 | Megawin288 | Tumi123