SEKATO.ID | JAMBI – Konflik yang terjadi antara Orang Rimba dan perusahaan sawit PT Primatama Kreasimas, anak perusahaan Sinar Mas Agro Resources and Technology (SMART) telah menyebabkan Orang Rimba mengungsi dari pemukiman mereka.
Tercatat 96 keluarga dengan 324 jiwa Orang Rimba yang tidak lagi ada di pemukiman mereka di Selentik, Desa Lubuk Jering, Ujung Doho, Desa Pematang Kabau dan Singosari, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun.
Kepergian Orang Rimba terjadi setelah adanya penyerangan ke pemukiman Orang Rimba yang menumpang di dalam kebun sawit warga Desa Lubuk Jering. Di Pemukiman Madani, Desa Lubuk Jering juga tidak lepas dari aksi kekerasan.
Di pemukiman yang sudah kosong itu, ada dua sepeda motor yang dibakar karyawan perusahaan. Total ada lima unit sepeda motor yang terbakar dari dua lokasi ini.
Menyikapi kejadian ini, Komunitas Konservasi Indonesia Warsi turut berperan untuk mengurai konflik, serta mencari penyelesaian persoalan secara adil dan memberikan rasa aman untuk semua pihak.
Pasca kejadian Warsi masih berupaya untuk menemui kelompok-kelompok yang terpencar-pencar menyelamatkan diri.
“Bagi Orang Rimba konflik di perkebunan dan dilanjutkan dengan penyerbuan ke pemukiman adalah hal yang sangat menakutkan. Itulah yang menyebabkan mereka lari,” kata Robert Aritonang, Manager Program Suku-Suku Komunitas Konservasi Indonesia Warsi.
Menurutnya penting untuk memastikan keberadaan Orang Rimba yang lari ini. Karena dilihat dengan waktu kejadian dan melarikan ini, sudah bisa dipastikan Orang Rimba tidak akan memiliki bahan pangan yang cukup.
Dalam diskusi dengan para pihak terkait, Polda Jambi melalui KKI Warsi sudah menyalurkan 90 paket sembako untuk Orang Rimba yang sedang mengungsi. Bantuan ini sangat penting untuk mengatasi masalah remayao, masa dimana tidak tersedia bahan pangan untuk konsumsi harian. Ini diperlukan untuk mencegah masalah ikutan dari konflik ini.
“Kami saat ini menyusul kelompok ini satu persatu, sembari mengantarkan ke mereka bahan pangan dari Polda untuk membantu mereka bertahan hidup di masa yang pastinya akan sulit untuk mencari bahan pangan,” kata Robert.
Dari penelusuran Warsi ke kelompok-kelompok ini, ditemukan kondisi mereka yang mengungsi tidak dalam kondisi yang baik. Meladang, yang lari jauh dari pemukiman awalnya, saat ini sedang sakit demam dan batuk.
Anggota kelompok Meladang juga terpencar berjauhan. Pun demikian dengan Kelompok Melayau Tuha yang juga kondisinya masih dalam situasi ketakutan dan belum mau untuk kembali ke pemukiman Madani di Lubuk Jering.
Kondisi serupa juga dialami oleh kelompok lain, Kondisi kelompok lain juga tidak lebih baik. Sebagian besar terutama perempuan dan anak-anak berada dalam kondisi trauma berat dan ketakutan.
Pendekatan adat dan persuasif
Dari diskusi yang dilakukan dengan kelompok-kelompok yang sedang mengungsi ini, pada intinya mereka bersedia untuk diskusi dan musyawarah dengan para pihak dengan catatan didampingi Warsi dan dijaminkan keamanannya. Dengan sudah adanya kesediaan kelompok-kelompok ini untuk berdiskusi dan bertemu dengan para pihak.
“Warsi mendorong aparat keamanan untuk menempuh penyelesaian persoalan ini pendekatan adat ke Orang Rimba secara persuasif dan penyelesaian yang memberikan rasa adil untuk semua pihak,” kata Robert.
Dalam penyelesaian konflik ini, Warsi berharap para pihak, utamanya pihak keamanan dan juga pemerintah juga melakukan pendekatan yang sama ke perusahaan.
“Kalau kita lihat kronologisnya, bentrok hari Jumat kemarin bukanlah kejadian tunggal, tetapi akumulasi atas kejadian sebelumnya dimana Orang Rimba mendapatkan perlakuan buruk dari tenaga security perusahaan,” kata Robert. (*)
Sumber: metrojambi.com







![[Suara.com/Iqbal Asaputro]](https://sekato.id/wp-content/uploads/2021/11/19516-ilustrasi-buzzer-28692188449109567926-75x75.jpg)




Discussion about this post