SEKATO.ID,JAMBI– Di tengah kepungan kabut asap yang menyelimuti Provinsi Jambi, upaya merawat kebudayaan tidaklah surut. Melalui Sarasehan dan Seni (Saraseni) Budaya 2026, para anak muda, akademisi, pejabat publik, pegiat ekologi, hingga pegiat kebudayaan, berkumpul menyatukan kelestarian budaya, inklusivitas sosial, kesetaraan gender, serta peran strategis perguruan tinggi dalam mengawal arah pemajuan kebudayaan bangsa.
Saraseni Budaya 2026 digelar oleh FKIP Universitas Jambi dan Ficus Nation (Ficus Hijau Nusantara) yang bertempat di Taman Budaya Jambi, Kota Jambi pada Rabu (14/9/2026). Saraseni Budaya 2026 mengusung tema “Pemajuan Budaya Jambi yang Inklusif, Setara, dan Berkelanjutan”.
Selain melibatkan akademisi dan komunitas lokal, kegiatan ini juga didukung oleh Cappa Keadilan Ekologis, World Wide Fund for Nature (WWF), Mitra Aksi, dan Setara Jambi.
Kegiatan ini menjadi ruang bagi anak muda untuk mengkreasikan ekspresi budaya ke dalam pertunjukan tari dan teater. Lebih dari itu, sarasehan ini menjadi ruang refleksi kritis yang menegaskan bahwa memajukan kebudayaan tidak sekadar merawat peninggalan fisik masa lalu, melainkan membangun cara pandang masyarakat yang rasional, adil, dan memanusiakan manusia.
Mengurai Filosofi Topeng Labu
Pemaknaan kebudayaan di Jambi tampak dari perjalanan seni tradisi Topeng Labu di Desa Muara Jambi, Kabupaten Muaro Jambi. Ketua Perkumpulan Rumah Menapo sekaligus pegiat kebudayaan, Mukhtar Hadi alias Borju, mengungkapkan bahwa Topeng Labu lahir dari respons terhadap stigma dan perlakuan tidak adil di masa lalu.
Berakar dari jejak wabah kusta yang pernah melanda kawasan Muaro Jambi, para penderita kusta kala itu terpaksa mengasingkan diri di hutan alias “ngutan”. Namun, saat Hari Raya Idulfitri tiba, mereka rindu berbaur dengan keluarga. Agar wajah mereka yang rusak tidak menakuti warga, mereka menutupi wajah menggunakan tempurung buah labu tua yang dihias dengan jelaga.
“Uniknya, tanaman labu tumbuh di ladang masyarakat. Ketika tua dan kering, tempurungnya dijadikan media penutup wajah. Saat mereka mengarak diri keliling kampung membawa keranjang (ambung), warga bukannya mengusir, melainkan menyambut hangat dengan berbagi makanan dan minuman. Di situlah lahir nilai pertama: kesetaraan, empati, dan saling berbagi,” katanya, Rabu (14/9/2026).
Topeng Labu yang menjadi tradisi arakan, terus dirawat oleh masyarakat lokal, termasuk anak muda laki-laki dan perempuan. Topeng Labu bahkan berkembang di Rumah Menapo menjadi seni pertunjukan panggung, ruang edukasi anak (Sekolah Alam Raya), hingga penggerak ekonomi desa melalui kuliner dan kerajinan.
Bagi Borju, kata kunci utama dari Topeng Labu adalah “memanusiakan manusia”. Saat topeng dikenakan, seluruh sekat sosial cair, tidak ada lagi perbedaan antara kaya dan miskin, sehat dan sakit, hingga laki-laki dan perempuan. Bahkan, batasan kultural patriarki Melayu yang dahulu melarang perempuan tampil di panggung jalanan kini tidak lagi menjadi halangan. Perempuan mulai dilibatkan aktif dalam perancangan kostum, pewarnaan media labu, hingga ikut menari dalam arakan lintas desa.
Mahasiswa Unja Kreasikan Pertunjukan Teater dan Tari Topeng Labu
Tradisi Topeng Labu direvitalisasi lewat helatan Saraseni Budaya 2026. Dalam perhelatan ini, 12 mahasiswa Universitas Jambi menampilkan pertunjukan kolaboratif teater dan tari Topeng Labu.
Eksperimen seni ini menampilkan paduan harmonis antara pemuda dan pemudi yang mengeksplorasi gerak tari serta dialog teatrikal berbasis cerita Topeng Labu. Melalui penampilan tersebut, generasi muda akademis membuktikan bahwa nilai-nilai kebudayaan tradisi dapat diolah secara adaptif, estetik, dan inklusif tanpa kehilangan akar historisnya. Keterlibatan seimbang antara mahasiswa laki-laki dan perempuan di atas panggung sekaligus merefleksikan nilai kesetaraan gender yang diusung dalam narasi Topeng Labu masa kini.
Inklusivitas dan Ketahanan Ekologi Kelompok Rentan
Persoalan kesetaraan dan keadilan sosial yang tercermin dalam filosofi Topeng Labu menemukan relevansinya secara lebih luas dalam tata kelola sumber daya alam. Direktur Cappa Keadilan Ekologi, Utari Octikarani, mengatakan bahwa kebudayaan dan pengelolaan hutan adat tidak dapat dilepaskan dari konsep inklusivitas yang sesungguhnya.
Namun, di lapangan, istilah inklusivitas masih kerap sebatas wacana. Kata Tari, Cappa telah memetakan kelompok yang paling terdampak oleh kerusakan lingkungan, ketidakpastian tata ruang, dan konflik tenurial: anak-anak, perempuan, masyarakat adat, penyandang disabilitas, serta komunitas desa terpencil.
“Inklusivitas sejati menuntut komitmen kita untuk menjamin ruang aman, nyaman, dan partisipasi yang bermakna bagi kelompok-kelompok rentan. Kerusakan ekologis memicu ketimpangan ekonomi dan ancaman gizi seperti stunting pada anak-anak di pedalaman,” ujar Tari.
Menguraikan ketimpangan tersebut, Cappa mendorong keterlibatan perempuan dan anak sebagai subjek utama pembangunan melalui prinsip Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI). Melalui pendekatan berbasis keluarga dan riset aksi partisipatif, Cappa mendorong kelompok perempuan di berbagai desa di Jambi memimpin kelembagaan Perhutanan Sosial dan menggerakkan ekonomi sirkuler.
Di Desa Sepitun misalnya, kelompok perempuan mengelola usaha minyak kelapa kampung, memanfaatkan limbah batok menjadi arang bakar, mengolah air kelapa menjadi pupuk organik cair, hingga menggerakkan inovasi eko-gastronomi dengan menanam sayur organik untuk mencukupi gizi anak-anak desa. Tak hanya itu, melalui gerakan Sehat Alam Sehat Anak, anak-anak dibebaskan mengekspresikan partisipasi ekologisnya, mulai dari menyusun peraturan sekolah bebas sampah plastik hingga menyuarakan keprihatinan atas deforestasi lewat karya seni.
Kebudayaan sebagai Ruang Akademis dan Komitmen Perguruan Tinggi
Dialektika antara tradisi lokal, kesetaraan gender, dan pelindungan ekologi tersebut membutuhkan wadah keilmuan yang kokoh. Di sinilah peran perguruan tinggi untuk kebudayaan.
Dekan FKIP Universitas Jambi, Prof. Dr. M. Sopian, S.Ag., M.Ag., mengatakan bahwa dunia pendidikan dan kebudayaan merupakan dua hal yang manunggal. Upaya melestarikan adat istiadat dan nilai-nilai lokal Jambi merupakan bagian tak terpisahkan dari tugas fakultas keguruan.
“Pendidikan dan kebudayaan itu tidak bisa dipisahkan. Dulu Unja pernah memiliki Fakultas Ilmu Budaya sebelum akhirnya dilebur ke dalam FKIP. Karena Jambi memiliki kekayaan budaya yang sangat luar biasa, kami menganggap budaya adalah bagian penting dari dunia pendidikan,” kata Sopian dalam sambutannya.
Meskipun perhelatan Saraseni Budaya 2026 harus berpacu dengan bencana kabut asap, kata Sopian, FKIP Unja berkomitmen menjaga agenda kebudayaan ini. Bahkan, Prof. Sopian mengungkapkan bahwa pihak universitas saat ini sedang memperjuangkan pendirian kembali Fakultas Ilmu Budaya (FIB) di Universitas Jambi. Usulan tersebut telah mendapat sinyal positif dari Menteri Kebudayaan saat melakukan kunjungan kerja ke Unja beberapa waktu lalu.
Sementara itu, Ketua Program Studi Sendratasik Universitas Jambi, Prof. Dr. Mahdi Bahar, S.Kar., M.Hum., membedah tantangan kebudayaan Indonesia dalam konteks filosofis dan konstitusional yang lebih luas.
Prof. Mahdi menekankan kata kunci “memajukan” yang bermakna kebudayaan nasional Indonesia harus bergerak dinamis di tengah peradaban dunia, bukan sekadar berskala lokal dan tidak dinamis.
“Mencerdaskan kehidupan bangsa itu berfokus pada pembangunan manusia, bagaimana konsep kita tentang manusia, penguasaan ilmu pengetahuan, hingga pembentukan karakter yang berakar pada kepribadian bangsa sendiri, bukan meniru identitas luar,” papar Prof. Mahdi.
Dia memberikan catatan kritis terkait ketimpangan peradaban yang masih dialami Indonesia di usia 80 tahun kemerdekaan. Dengan membandingkan teori hukum tiga tahap, Prof. Mahdi menyoroti bagaimana sebagian masyarakat Indonesia, seperti komunitas adat di pedalaman masih berada pada tahap teologis atau alam mitos. Sementara itu, dunia luar dan peradaban Yunani telah bertransisi ke alam pikir rasional dan ilmiah (logos) sejak berabad-abad sebelum masehi.
Secara tajam, ia mengingatkan agar masyarakat tidak terjebak pada modernitas semu atau penggunaan teknologi tanpa daya kritis.
“Jangan dikatakan kita sudah maju hanya karena punya barang modern atau sibuk bermain TikTok sepanjang hari. Cerdas itu lawannya bodoh. Pemanfaatan teknologi harus ditujukan untuk efisiensi dan kemajuan ilmu pengetahuan. Jika kita tidak paham apa yang dipelihara dan dikembangkan dari 10 Objek Pemajuan Kebudayaan, nilai budaya yang sejatinya ’emas’ justru bisa berubah menjadi ‘kerikil’,” katanya.
Paparan keempat narasumber serta pementasan seni oleh para mahasiswa dalam Saraseni Budaya 2026, menunjukkan bahwa pemajuan kebudayaan Jambi tidak boleh berhenti pada romantisme masa lalu atau sekadar seni pertunjukan formal.
Dari Topeng Labu Muaro Jambi dan panggung mahasiswa Unja, publik belajar tentang kesetaraan, kemanusiaan, dan keberanian meruntuhkan sekat gender. Lalu, dari gerakan Cappa Keadilan Ekologi, terlihat pentingnya inklusivitas serta peran perempuan dan anak muda dalam menjaga benteng ekologi. Terakhir, melalui peran akademis Universitas Jambi, seluruh fondasi kearifan lokal tersebut diteliti, dirawat, serta ditransformasikan menuju peradaban bangsa yang kritis, rasional, dan berkeadilan sosial.
Divisi Kemitraan dan Solidaritas Ficus Nation, Hospita, mengatakan keterlibatan Ficus Nation dalam Saraseni Budaya 2026 merupakan bagian dari upaya mendekatkan isu kesetaraan gender, inklusivitas, dan keberlanjutan kepada anak muda melalui pendekatan kreatif dan seni. Kata Hospita, Ficus Nation percaya bahwa isu kesetaraan bukan sesuatu yang jauh atau terlalu berat untuk dibicarakan karena ini memang ada dalam kehidupan sehari-hari anak muda.
“Melalui diskusi, pertunjukan tari dan teater, kami berharap anak muda dapat lebih dekat dengan isu-isu tersebut, merefleksikan pengalaman mereka, serta menjadi bagian dari perubahan menuju masyarakat yang lebih setara, inklusif, dan berkelanjutan,” katanya.
(**)







Discussion about this post