SEKATO.ID, JAMBI – Ficus Nation (Ficus Hijau Nusantara) dan FKIP Universitas Jambi menggelar diskusi publik dan pertunjukan seni topeng labu khas Muara Jambi yang berlokasi di Teater Arena, Taman Budaya Jambi, Kota Jambi pada Rabu (14/9/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Saraseni Budaya 2026: Pemajuan Kebudayaan Jambi yang Inklusif, Setara, dan Berkelanjutan.
Diskusi publik menghadirkan dua pemateri, yakni Direktur Cappa Keadilan Ekologis, Utari Octikarani, dengan topik “Memaknai Inklusivitas dalam Pengelolaan Sumber Daya di Komunitas Masyarakat Lokal” , serta Ketua Perkumpulan Rumah Menapo, Mukhtar Hadi alias Borju, yang membawakan topik “Dari Labu ke Panggung, Siapa yang Merawat Budaya Kita?”. Kegiatan ini dibuka oleh Dekan FKIP Universitas Jambi, Prof. Sopian, S.Ag., M.Ag., dan dipandu oleh dosen Prodi Arkeologi Universitas Jambi, Amir Husni, sebagai moderator.
Usai diskusi publik, kegiatan dilanjutkan dengan Pemetasan Tari dan Topeng Labu, yang dikreasikan oleh 12 mahasiswa dan mahasiswi di bawah bimbingan tiga dosen. Para penampil (talent) telah menjalani latihan intensif untuk menyampaikan pesan kesetaraan dan inklusivitas melalui seni tari dan teater.
“Peserta tari dan teater juga sudah latihan secara keras, kemudian bisa memberikan hasil yang maksimal nanti. Acara ini mungkin jadi momentum yang bagus bagi kita untuk mengembangkan kebudayaan, khususnya di lingkungan Universitas Jambi, lingkungan mahasiswa kita. Apalagi kita dalam waktu dekat ini akan mengusahakan mendirikan kembali Fakultas Ilmu Budaya,” kata Ketua Pelaksana Saraseni Budaya 2026, Irsyad Leihitu, Selasa (12/9/2026).
Sementara itu, Divisi Kemitraan dan Solidaritas Ficus Nation, Hospita, mengatakan keterlibatan Ficus Nation dalam Saraseni Budaya 2026 merupakan bagian dari upaya mendekatkan isu kesetaraan gender, inklusivitas, dan keberlanjutan kepada anak muda melalui pendekatan kreatif dan seni. Kata Hospita, Ficus Nation percaya bahwa isu kesetaraan bukan sesuatu yang jauh atau terlalu berat untuk dibicarakan karena ini memang ada dalam kehidupan sehari-hari anak muda.
“Melalui diskusi, pertunjukan tari dan teater, kami berharap anak muda dapat lebih dekat dengan isu-isu tersebut, merefleksikan pengalaman mereka, serta menjadi bagian dari perubahan menuju masyarakat yang lebih setara, inklusif, dan berkelanjutan,” katanya.
Akar Ekspresi Budaya Topeng Labu
Pertunjukan Topeng Labu dalam Saraseni Budaya 2026, memiliki keterkaitan dengan cerita dan kolektivitas masyarakat Desa Muaro Jambi, Kabupaten Muaro Jambi. Menurut cerita turun-temurun, topeng labu tidak lahir hanya untuk sebagai hiburan biasa, melainkan berakar dari kemanusiaan dan respons sosial masyarakat lokal terhadap penyakit kusta pada masa lampau.
Pada zaman dahulu, kusta merupakan penyakit kulit menular yang sangat ditakuti oleh masyarakat, termasuk di Desa Muara Jambi. Penderita kusta harus menanggung stigma sosial sehingga diasingkan dari pemukiman, disisihkan dari interaksi kemasyarakatan, serta kehilangan ruang untuk mengekspresikan diri. Karena itu, penderita kusta terpaksa “ngutan” atau tinggal di hutan sementara waktu.

Di tengah situasi isolasi tersebut, lahir sebuah ikhtiar kreatif dengan memakai topeng pelindung. Penderita kusta memanfaatkan buah labu kayu atau labu air yang melimpah. Labu dikeringkan, dikerok bagian dalamnya, lalu diukir membentuk karakter wajah manusia. Bagi para penderita kusta maupun warga yang terdampak, topeng ini menjadi penutup luka dan pelindung wajah yang memungkinkan mereka untuk berinteraksi tanpa khawatir.
“Penderita kusta ini secara manusiawi punya rasa rindu, dan ingin bertemu kerabat di desa. Lalu, ia memakai topeng, dan mengarak diri sembari membawa keranjang. Ini disambut antusias, dan menjadi hiburan. Terjadilah interaksi. Masyarakat memberikan apa yang dipunya, seperti makanan dan minuman,” kata pegiat kebudayaan, Mukhtar Hadi yang kerap disapa Borju.
Seiring berkembangnya penanganan medis modern, penyakit kusta dapat disembuhkan dan stigma tersebut perlahan pudar. Namun, nilai simbolik dari Topeng Labu khas Muaro Jambi, tetap ada dan membekas sampai sekarang. Setiap Idulfitri, masyarakat Desa Muara Jambi menggunakan topeng labu sembari menari-nari dan bersilaturahmi. Ekspresi budaya ini terus dipertahankan oleh masyarakat setempat, terutama anak muda laki-laki dan perempuan.
Nilai filosofis inilah yang diangkat dalam Saraseni Budaya 2026 yang digelar oleh Ficus Nation dan FKIP Universita Jambi. Pertunjukan seni topeng labu kali ini ditampilkan dengan menyuarakan kesetaraan gender sekaligus keadilan ekologis dan pangan. Selain keterlibatan akademisi dan komunitas lokal, kegiatan ini juga didukung oleh Cappa Keadilan Ekologis, WWF, Mitra Aksi, dan Setara Jambi.
(*)










Discussion about this post