SEKATO.ID, JAMBI – Upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat di Provinsi Jambi menunjukkan hasil positif. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi mencatat bahwa tingkat kemiskinan dan ketimpangan pengeluaran penduduk pada 2025 mengalami penurunan, di saat sektor pertanian justru mencatat lonjakan produksi yang signifikan.
Pada September 2025, persentase penduduk miskin di Jambi tercatat 6,89 persen, turun 0,30 persen poin dibanding Maret 2025 dan turun 0,37 persen poin dibanding September 2024.
Secara jumlah, penduduk miskin di Jambi kini sebanyak 261,25 ribu orang, berkurang 9,69 ribu orang dalam enam bulan terakhir dan turun 11,45 ribu orang dibandingkan setahun sebelumnya.
Penurunan kemiskinan terjadi baik di wilayah perkotaan maupun perdesaan. Tingkat kemiskinan perkotaan pada September 2025 sebesar 9,25 persen, turun dari 9,52 persen pada Maret 2025. Jumlah penduduk miskin perkotaan berkurang sekitar 2,46 ribu orang.
Di wilayah perdesaan, tingkat kemiskinan turun menjadi 5,70 persen, dari sebelumnya 6,01 persen. Jumlah penduduk miskin desa berkurang sekitar 7,23 ribu orang. Ini menunjukkan bahwa perbaikan kesejahteraan tidak hanya terpusat di kota, tetapi juga menjangkau masyarakat desa.
BPS mencatat Garis Kemiskinan pada September 2025 sebesar Rp713.849 per kapita per bulan, dengan komposisi terbesar berasal dari kebutuhan makanan, yakni 75,99 persen. Rata-rata rumah tangga miskin di Jambi terdiri dari 4,98 orang, sehingga garis kemiskinan per rumah tangga mencapai sekitar Rp3,55 juta per bulan.
Selain kemiskinan, tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk juga menunjukkan tren membaik. Gini ratio Jambi pada September 2025 tercatat 0,291, turun dibanding Maret 2025 (0,301) dan September 2024 (0,315).
Di wilayah perkotaan, gini ratio turun menjadi 0,320, sementara di perdesaan tercatat 0,266. Angka ini menunjukkan distribusi pengeluaran masyarakat Jambi semakin merata.
Berdasarkan ukuran ketimpangan Bank Dunia, kelompok 40 persen penduduk terbawah menyumbang 23,11 persen dari total pengeluaran. Di perdesaan angkanya bahkan lebih tinggi, yakni 24,36 persen, menandakan daya beli kelompok bawah di desa relatif lebih terjaga.
Dari sektor pertanian, Jambi mencatat capaian luar biasa pada produksi padi tahun 2025. Luas panen padi mencapai 80,37 ribu hektare, meningkat 30,42 persen dibandingkan 2024.
Sejalan dengan itu, produksi padi naik menjadi 367,79 ribu ton Gabah Kering Giling (GKG) atau meningkat 30,88 persen. Produksi beras untuk konsumsi penduduk juga melonjak menjadi 212,76 ribu ton, naik 50,19 ribu ton dibanding tahun sebelumnya.
Lonjakan produksi ini memperkuat ketahanan pangan daerah sekaligus berpotensi menekan tekanan harga bahan pokok, yang pada akhirnya turut membantu menjaga daya beli masyarakat, khususnya kelompok berpendapatan rendah.
(ARA)












Discussion about this post