SEKATO.CO.ID | MUARO JAMBI– Pemilihan Umum Raya (PEMIRA) FKIP masih digantung dengan ketidakjelasan oleh ketua KPU FKIP dari sabtu (12/8) sampai hari ini.
Tentu sebagian besar mahasiswa di FKIP bahkan UNJA bertanya dengan apa yang terjadi. Salah satu kabar yang beredar adalah ketidaknetralan ketua KPU dan beberapa komisioner.
Ketidaknetralan itu terlihat pada ketua KPU yang secara sepihak disisa 15 menit sebelum penutupan voting, langsung menghentikan PEMIRA. selain itu Muammar langsung menghilang tanpa kejelasan.
“Tentu sangat aneh, saya melihat adanya ketidaknetralan ketua KPU ditambah lagi dia tidak bermusyawarah dengan para komisioner KPU serta tidak berkoordinasi dengan ketua BAWASLU.” Ucap Ulil Abror selaku ketua Himpunan Mahasiswa PBA.
Gelagat tidak beres ini pun berlanjut dengan adanya press rilis yang tanda tangani oleh Wakil Ketua BAWASLU dan Sekretaris BAWASLU. Padahal ketua BAWASLU masih berada di kampus sampai pukul 10 malam.
“Terlebih lagi adanya press rilis yang dikeluarkan oleh Hadi dan Gia. Surat tersebut dikeluarkan hanya berdasarkan asumsi dan tidak adanya bukti laporan dari Elvida hanya surat laporan. padahal Elvida dihari pemilihan masih di Kab. Kerinci” lanjutnya.
Lebih lanjut Ulil juga prihatin dengan munculnya MANTAN Presiden Mahasiswa UNJA yang menyalahkan Rektor.
“Yang lucu saat ini, ada para mantan aktivis yang turut menyalahkan rektor. Apakah benar-benar menyalahkan atau karena kalah dalam ‘pertandingan’ jadi harus turun gunung sambil menembak sana-sini” ucapnya.
Ia berharap kedepannya haruslah legowo kepada siapa saja yang didukung baik menang ataupun kalah.
“Semoga kedepan ketika berkompetisi harus ada mental untuk kalah, bukan mikir menang saja. kalau begini mereka-mereka yang sibuk menyalahkan, akan dicap kambing hitam karena mengebiri demokrasi kampus yang seharusnya berjalan.” tutupnya.
Menurut informasi yang diperoleh media ini, kejanggalan terjadi ketika proses pemilihan masih menyisahkan waktu antara 15 hingga 20 menit sebelum berakhir. Dan saat itu, paslon Gubernur BEM nomor urut 2, yakni Arya Ramadhan dan Muwafik Azizah unggul atas paslon nomor urut 1 yakni Akrom Mardatillah berpasangan dengan Vanesa Tri Utami. Masing-masing memperoleh 2315 untuk paslon nomor urut 2 dan 2022 suara untuk paslon nomor urut 1.

Salah seorang tim pemenangan paslon 2, Imam Arifin sangat menyayangkan sikap arogan Ketua KPU yang disinyalir merupakan salah satu tim paslon 1, secara tiba-tiba menghentikan proses voting suara.
“Disitu ada selisih suara cukup banyak yakni, 293 suara. Tanpa alasan yang nyata, Muammar Ketua KPU menghentikan proses pemilihan. Kami punya bukti-bukti atas kejanggalan itu,”tegas Imam.
“Tentu sangat aneh, saya melihat adanya ketidaknetralan ketua KPU dan ditambah lagi tidak adanya proses musyawarah dengan para Komisioner KPU, serta tidak berkoordinasi dengan ketua Bawaslu,”ujar Imam Arifin menambahkan.
Menurut Imam, pihaknya dan tentu paslon nomor urut 2 sangat dirugikan atas drama seperti ini. Pihaknya menyebut, hal semacam ini sebuah gerakan untuk menggagalkan kemenangan paslon 2 menduduki kursi Gubernur BEM.
Dikatakan Imam Arifin, jalannya proses voting suara dengan sistem yang dikendalikan pihak rektorat sangatlah independent.
“Jadi, keberpihakan pihak rektorat dalam proses demokrasi kali ini hanyalah alibi yang digaungkan mereka tidak ada bukti. Semua hanya alibi,”tegas Imam.(*)












Discussion about this post