SEKATO.CO.ID — Pemeliharaan jalan di tiga titik di Desa Bukit Bakar, Kecamatan Renah Mendalu, Kabupaten Tanjung Jabung Barat (Tanjabbar) yang bersumber dari dana desa sebesar Rp500 juta lebih itu diduga di markup.
Pemeliharaan di Jalan Usaha Tani dengan volume pekerjaan 900 meter (532 meter x 0,15 meter x 4 meter) di RT 06 dengan nilai Rp210.156.530,-. bersumber dari dana desa. Kemudian pemeliharaan Jalan Desa 800 meter (430 meter x 4 meter x 0,15 meter) di RT 02 dengan nilai Rp177.266.530,- bersumber dari dana desa.
Selanjutnya pemeliharaan Jalan Usaha Tani pekerjaan 900 meter (350 meter x 4 meter x 0,15 meter) di RT08 dengan dana Rp138.848.140,- yang bersumber dari dana desa 2023. Jika ditotalkan tiga pekerjaan itu mencapair Rp526.271.200,-.
“Itu sumber dananya dana desa ini pekerjaanya macam itu ga layak. Kalau hujan jadi payah lewat jadi bubur,” kata sumber sekato.co.id di Desa Bukit Bakar.
Ia mengetakan awalnya masyarakat tidak mengtahui besaran dana pemeliharaan tiga ruas jalan tersebut. Saat pekerjaan dilakukan tidak terpasang papan merek pekerjaan. Akan tetapi saat sekitar bulan oktober 2023 ketika Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) akan masuk ke desa-desa di Tanjabbar melakukan audit papan tersebut baru dipasang.
“Disinilah kami tau kalau anggaranya dan volumenya segitu. Ketetebalannya ternyata 15 cm tapi kenyataannya dilapangan jangankan 15 cm, 2 cm saja tidak ada itu,” ungkapnya.
Masih dari sumber sekato.co.id ini memaparkan jalan itu kalau dari perencanaannya yang kita tau itu batunya batu bescost tapi kenyataan dilapangan batu pecahan yang besar-besar bercampur tanah.
“Ini bukan batu bascost tapi batu sampah bescost kan parah ini. Dananya juga besar,” ungkapnya.
Informasi yang dirinya terima setiap satu truknya batu campur tanah yang dibangunkan itu dananya mencapai Rp5 juta perturknya. Tentu, kata dia hal ini tidak wajar sebab jika batu campur tanah bisa dibaeah Rp3juta rupiah.
“Tinggal kalikan saja berapa banyak batu campur tanah yang disebut kadss batu bescost itu. Anggaplah itu hitungannya 10 truk kalikan 5 sudah jelas Rp50 jutaan. Kalau harga normalnya dibawah Rp3juta pertruk pasti ada keuntungan 2 juta kemana ini,” ucapnya.
Selain itu, informasi yang ditetima dirinya alat berat yang digunakan untuk pengerasan jalan itu merupakan pinjaman dari perusahaan disekitar desa. Akan tetapi informasinya itu masuk dalam anggaran pekerjaan sebagai sewa alat.
“Kan ada dua alatnya. Bayarnya biasanya kan perjam. 1 jam itu Rp600ribu -Rp700ribu tinggalkan kalikan 30 jam saja anggar kan sekitar Rp21jutaan. Kalau dia dibantu perusahaan tanpa bayar besar juga dananya itu,” ujarnya.
Masih menurut sumber yang engan namanya disebutkan. Menurutnya, jalan tersebut sudah bagus tetapi malah dilakukan pemeliharaan dengan batus bescost yang bercampur tanah. Akibat hal itu saat hujan turun jalan menjadi bubur dan licin.
“Harusnya tinggal beton, karena jalan rintisan awal itu sudah bagus tinggal butuh peningkatan untuk di beton atay aspal bagus jadinya. Kalau sekarang balik laginkaya awal dulu.” Tandasnya
Terkait hal itu, Kades Bukit Bakar Srianto mengatakan jika jalan tersebut dilakukan pemeliharaan dengan menggunakan batu bescost. Tetapi saat ditanya sejak kapan ada batu bescost bercampur tanah dan batunya besar. Ia kembali menegaskan jika batu untuk jalan tetsebut merupakan batu bescost.
“Batu bescost itu batunya,” katanya.
Bahkan, ia saat ditanya terkait dengan dua alat yang digunaka motor geleder 24 jam dan Vibro Roller yang digunakan selama 16 jam yang merupakan pinjaman perusahaan, kades membantah ia mengaku alat terdebut berasala dari Jambi. Badahal dalam surat peminjaman jelas berasal dari perusahaan yang digunakan pada 19 April 2023.
“Itu alat dari Jambi, dari Jambi alat itu bukan dari perusahaan.” Tandasnya.












Discussion about this post