SEKATO.ID, KERINCI – Gunung Kerinci, gunung api tertinggi di Sumatera yang berada di wilayah Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi, memiliki catatan panjang aktivitas vulkanik.
Hal itu disampaikan oleh pengamat Gunung Api, Nia saat pemaparan pada forum konsultasi publik peta kawasan rawan bencana Gunung Kerinci, Kamis (29/10/2026).
Diungkapkannya, Gunung Kerinci merupakan salah satu gunung api aktif di Indonesia. Dengan ketinggian sekitar 3.805 meter di atas permukaan laut (mdpl), gunung ini menjadi salah satu ikon alam kebanggaan masyarakat Kerinci dan Provinsi Jambi.
Namun, di balik keindahan panorama alamnya, Gunung Kerinci menyimpan potensi aktivitas vulkanik yang perlu terus dipantau.
“Gunung api Kerinci ini telah mengalami lebih dari 32 kali erupsi sejak catatan letusannya dimulai pada 1838,” ujar Nia.
Ia menjelaskan, karakter letusan Gunung Kerinci umumnya berupa erupsi yang mengeluarkan material abu vulkanik.
Aktivitasnya juga dapat ditandai dengan munculnya kolom abu di atas kawah.
Salah satu aktivitas erupsi yang disorot terjadi pada 12 Januari 2023.
Saat itu, Gunung Kerinci dilaporkan mengeluarkan abu vulkanik dengan kolom berwarna kelabu yang mencapai ketinggian sekitar 1.200 meter di atas puncak.
Catatan tersebut menjadi pengingat bahwa aktivitas Gunung Kerinci dapat berubah sewaktu-waktu sehingga pemantauan oleh petugas berwenang tetap diperlukan.
Selain itu, grafik aktivitas kegempaan yang ditampilkan dalam materi memperlihatkan adanya catatan aktivitas seismik Gunung Kerinci.
Keindahan Alam Berpadu dengan Potensi Bahaya
Gunung Kerinci selama ini menjadi daya tarik bagi para pendaki dan wisatawan yang ingin menikmati keindahan alam kawasan Kerinci Seblat.
Meski demikian, aktivitas pendakian perlu memperhatikan rekomendasi keselamatan dan ketentuan resmi yang berlaku.
Masyarakat maupun pendaki juga diimbau mengikuti informasi terkini dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) serta petugas pengelola kawasan.
Sejarah panjang erupsi Gunung Kerinci menunjukkan bahwa gunung api ini bukan hanya kekayaan alam yang memikat, tetapi juga kawasan yang membutuhkan kewaspadaan dan pengelolaan risiko bencana secara berkelanjutan.
(Rgk)







Discussion about this post