• Sekato
  • Disclaimer
  • Kode Etik
  • Pedoman
  • Redaksi
  • Perlindungan
  • BUDAYA
  • DAERAH
  • DUNIA
  • EKONOMI
  • HIBURAN
  • HUKUM
  • KOMUNITAS
  • LINGKUNGAN
  • NASIONAL
  • OLAHRAGA
  • OPINI
  • PEMERINTAHAN
  • PLESIRAN
  • POLITIK
  • RAGAM
  • SAINS
Umum dan Segalanya
No Result
View All Result
Umum dan Segalanya
No Result
View All Result
  • BUDAYA
  • DAERAH
  • DUNIA
  • EKONOMI
  • HIBURAN
  • HUKUM
  • KOMUNITAS
  • LINGKUNGAN
  • NASIONAL
  • OLAHRAGA
  • OPINI
  • PEMERINTAHAN
  • PLESIRAN
  • POLITIK
  • RAGAM
  • SAINS
Bahren Nurdin

Bahren Nurdin

Cerdas Membaca Hasil Survei: Jangan Baper

Oleh Bahren Nurdin*

Editor Ara Permana Putra
07/12/2020
in OPINI
A A
0
PostTweetSendShareScan

MEMASUKI babak akhir kampanye Pilkada serentak 2020 ini, agaknya saat ini sedang terjadi ‘perang’ hasil survey. Masing-masing paslon merilis hasil survey dari berbagai lembaga dengan klaim kemenangan masing-masing. Tidak ada yang salah. Silahkan saja untuk meyakinkan pemilih. Yang salah kemudian adalah jika hasil survey dijadikan alat untuk menyerang paslon lain dan menimbulkan potensi konflik di tengah masyarakat. Itu tidak benar!

Maka dari itu, masyarakat harus benar-benar memahami apa itu survey dan faktor apa saja yang dapat mempengaruhi hasil suatu survey. Ada begitu banyak definisi survey yang disampaikan para ahli. Namun secara garis besar, survey dapat diartikan sebagai aktivitas akademis dalam mengumpulkan informasi atau memprediksi suatu keadaan. Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikanya ‘sebagai teknik riset dengan memberi batas yang jelas atas data; penyelidikan; peninjauan’.

Lantas apa saja yang mempengaruhi hasil suatu survey? Pertama, data dan metodologi. Data menyangkut populasi dan sampling. Populasi adalah sekelompok orang, benda, atau hal yang menjadi sumber pengambilan sampel; suatu kumpulan yang memenuhi syarat tertentu yang berkaitan dengan masalah penelitian. Sedangkan sampel adalah bagian kecil yang mewakili kelompok atau keseluruhan yang lebih besar (populasai).

Jadi, jika suatu survey dilakukan dengan jumlah polulasi dan sampel yang berbeda maka hasilnya juga akan berbeda. Begitu juga dengan metode pengambilan datanya terhadap sampel yang dipilih. Jika metodologi pengolahan datanya berbeda maka kemungkinan hasilnya juga akan berbeda.

Kedua, waktu dan tempat survey. Hasil survey itu sangat dinamis. Bisa berubah setiap saat. Dalam konteks Pilkada, survey yang dilakukan bulan lalu akan berbeda dengan bulan ini walaupun dilakukan terhadap sampel yang sama. Banyak factor perubahan itu diantaranya, dinamika politik yang terjadi, sebelum dan sesudah debat, sebelum dan sesudah kampanye tatap muka, dan lain sebagainya. Itulah mengapa lembaga survey selalu mencantumkan waktu pelaksanaan survey.

Begitu juga halnya dengan tempat pengamblilan sampel dari suatu populasi yang dipilih. Dengan pertanyaan yang sama, diajukan di tempat yang berbeda maka hasilnya bisa jadi berbeda. Pertanyaan “menurut pengalaman anda, apakah harimau itu pemangsa manusia?”. Jika pertanyaan ini diajukan kepada penjaga kebun binatang, maka ada kemungkinan mereka menjawab ‘tidak’ karena di kebun binatang harimau selalu dikandang. Tapi bila pertanyaan ini diajukan ke suatu masyarakat di tempat lain, bisa jadi dijawab ‘ya’. Waktu dan tempat menentukan hasil suatu survey.

Baca juga

Hidup di Era AI:  Menguasai atau Dikuasai?

Kota Jambi:Bahagia Bersama Sampah?

Ciptakan Suasana Kondusif Jelang Pilkada 2024, Pinto Jayanegara : Hati-hati Terjebak Hoaks

Survei SMRC: Jelang 2024, Dukungan ke Parpol KIB Kian Melemah

Di Usia ke 57 Tahun, Partai Golkar Pasang Target 60 Persen Menang Pilkada dan 20 Persen untuk Pileg

Ketiga, lembaga survey. Ini menyangkut kredibilitas lembaga. Saya ingin tegaskan, survey itu gawean akademis. Kerjaannya akademis, tapi bisa jadi dikerjakan untuk kepentingan politis. Di sinilah kita akan mengenal ‘survey pesanan’. Suatu lembaga yang dipesan oleh ‘sponsor’ untuk melakukan suatu survey dengan hasil yang diinginkan.

Dalam konteks Pilkada, hal ini mungkin saja terjadi. Tapi tidak boleh digeneralisir. Tidak semua lebaga survey bekerja untuk sponsor. Masih ada yang memiliki idealisme dan mempertahankan kredibilitas lembaga mereka dan menjunjung tinggi nilai-nilai objektivitas. Di bagian ini, masyarakat diminta untuk cerdas dalam meberi penilaian. Mana lembaga yang benar-benar independen dan mana yang berjibaku memenuhi pesanan sponsor.

Dari penjelasan singkat saya di atas, saya hanya ingin mengatakan bahwa masyarakat tidak perlu terbawa perasaan alias ‘baper’ dalam menanggapi hasil suatu survey perolehan suara dalam pilkada. Biasa-biasa saja. Begitu juga para Paslon, tidak perlu serang-serangan apa lagi sampai memancing gesekan di tengah masyarkat. Tanggapilah hasi survey itu secara positif. Jika ada lembaga survey yang memprediksi tingkat elektabilitas anda tinggi, syukuri dan pertahankan. Jika masih rendah, maksimalkan usaha untuk mendongkraknya selagi waktu masih tersisa. Lebih-lebih, di last minute seperti saat ini, Paslon harus fokus pada target-target yang hendak dicapai. Terpilih!

Akhirnya, dalam konteks Pilkada, fungsi survey itu adalah alat untuk memprediksi elektabilitas Paslon. Tolong garis bawahi ‘memprediksi’. Prediksi itu bisa benar bisa juga salah dan sangat bergantung kepada faktor-faktor tetentu yang mengakibatkan hasil suatu survey itu sangat dinamis. Jika bigitu, tidak usah ‘baper’ dan jangan terlalu diagung-agungkan. Biasa-biasa saja! Yang penting, Pilkada sehat, aman dan damai sehingga terpilih pemimpin yang legitimit dan berkualitas. Semoga.

*) Penulis adalah seorang Akademisi UIN STS Jambi dan Direktur Pusat Kajian Demokrasi dan Kebangsaan

Tags: Bahren NurdinPilkadaPilkada SerentakSurvei
Previous Post

Patriotisme untuk Pilkada

Next Post

Tenang

Artikel terkait

OPINI

Asap dan Keadilan

17/09/2026
2k
OPINI

Hidup di Era AI:  Menguasai atau Dikuasai?

15/09/2026
2k
OPINI

Stabilitas Moneter: Awal Transformasi Ekonomi Daerah Jambi

10/08/2026
2k
OPINI

Memaknai Hari Pajak: Membangun Kepatuhan, Bukan Ketakutan untuk Masa Depan Ekonomi Indonesia dan Tantangan Jambi

14/07/2026
2k
OPINI

Ketika Daya Saing Daerah Direduksi Menjadi Satu Proyek

09/06/2026
2k
Next Post
Bahren Nurdin

Tenang

Muawwin

Jurnalis Jambi Raih Peringkat 1 AJP Wilayah Sumbagteng

Ayo ke TPS! Jadilah Pelaku Sejarah

Ketua FJPI, Nining Antero.

Nining Antero: "KPU Provinsi Jambi Kangkangi UU Pers"

Sepanjang Tahun 2020, DKP Provinsi Jambi Raih Prestasi Membanggakan

Discussion about this post

Kalender

September 2026
SMTWTFS
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930 
« Aug    

Populer

    DISCLAIMER | KODE ETIK | PEDOMAN MEDIA SIBER | REDAKSI | SOP PERLINDUNGAN WARTAWAN

    © 2024 SEKATO.ID - Jalan HM Yusuf Singedekane, Lorong Purnawira, No 7, RT 21, Telanaipura, Kota Jambi. Kode Pos 36122. Developed by Ara.

    • Sekato
    • Disclaimer
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Redaksi
    • Perlindungan

    © 2020 Sekato - Jalan HM Yusuf Singedekane, Lorong Purnawira, No 7, RT 21, Telanaipura, Kota Jambi. Kode Pos 36122. Developed by Ara.

    Mami188 | Vip555 | Dewi11 | Megasloto | Mega777 | Dewihoki | Mega338 | Megawin188 | Koko5000 | Ledak388 | Mega288 | Surga11 | Bighoki | Visitorbet | Rajalangit77 | Surga77 | Maxwin288 | Nagawin | Koko303 | Apigacor88 | Surga88 | Musangwin | Katakwin | Purislot | Indobet | Ratu303 | Surgaplay | Megawin777 | Supraslot | Semutwin | Interwin | Vip288 | Dewi288 | Ganas33 | Ovo88 | Satset138 | Api5000 | Mamen123 | Api33 | Vip333 | Kombo88 | Api88 | Megawin288 | Tumi123