SEKATO.ID, KERINCI – Upaya menjaga serta memurnikan kembali Itik Kerinci sebagai kekayaan genetik asli daerah kini benar-benar mendapat perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Kerinci. Hal ini ditegaskan melalui kunjungan langsung Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kerinci, Osra Yandi, ke lokasi pemurnian itik di Desa Koto Majidin pada Selasa (02/12).
Dalam kunjungan tersebut, Osra Yandi didampingi tim teknis, Babinsa, Kabid Peternakan drh. Wira, Kabid Sarpras Yunisman Hawari yang juga PPTK, serta rombongan lainnya. Suasana kunjungan berlangsung hangat, namun tetap kritis dan penuh evaluasi, mengingat program pemurnian itik ini merupakan salah satu agenda strategis pemerintah daerah.
Rombongan meninjau secara detail kondisi lapangan yang akan dijadikan pusat pemurnian. Pemeriksaan dilakukan mulai dari kesehatan indukan, pola pemeliharaan, hingga kesiapan peternak dalam mengikuti standar teknis pemurnian. Osra Yandi menilai semangat peternak sudah sangat baik, meski masih terdapat beberapa catatan penting.
“Kita sedang memastikan visi Bupati Kerinci benar-benar terlaksana di lapangan. Banyak progres positif, namun tetap ada hal yang perlu kita perbaiki secara bertahap,” ujar Osra Yandi dengan nada optimistis.
Beberapa kendala seperti keterbatasan fasilitas pembibitan dan risiko kawin silang dengan itik luar daerah menjadi perhatian utama. Pemerintah, kata Osra, akan menyiapkan dukungan bertahap agar standar pemurnian semakin kokoh.
Desa Koto Majidin dinilai memiliki posisi strategis sebagai pusat pemurnian, karena populasi Itik Kerinci di wilayah ini cukup dominan dan masyarakatnya aktif mengembangkan peternakan itik lokal.
Kabid Peternakan, drh. Wira, menilai bahwa desa-desa sentra seperti Koto Majidin harus diperkuat dari sisi teknis agar branding Itik Kerinci bisa melejit.
“Kalau kualitas bibit terjaga tetap murni, pasar lebih luas akan terbuka. Itik Kerinci berpotensi menjadi ikon ekonomi baru daerah,” tegasnya.
Sementara itu, Kabid Sarpras sekaligus tim teknis program, Yunisman Hawari, memastikan seluruh tahapan berjalan sesuai aturan.
“Mulai seleksi induk, penataan kandang, hingga pembibitan—semua kami awasi ketat agar hasilnya benar-benar berkualitas,” ujarnya.
Dalam kunjungan ini, pemerintah juga kembali menegaskan bahwa Itik Kerinci memiliki keunggulan komparatif yang tidak dimiliki banyak itik lokal lain:
Produktivitas telur tinggi, mencapai 250–280 butir per tahun
Kerabang telur berwarna hijau kebiruan yang unik
Tahan penyakit dan sangat adaptif di dataran tinggi
Daging lebih gurih dan banyak diburu pasar kuliner
Sifat jinak, mudah dipelihara, dan efisien memanfaatkan pakan lokal
Potensi besar inilah yang membuat pemerintah semakin yakin bahwa program pemurnian adalah langkah yang tepat.
Kehadiran Babinsa dalam rombongan memberi tambahan energi positif. Mereka membantu memastikan keterlibatan masyarakat berjalan baik, aman, dan terkoordinasi.
Masyarakat setempat juga menyampaikan sejumlah aspirasi, terutama terkait kebutuhan pelatihan dan fasilitas tambahan. Semua masukan ini langsung dicatat untuk ditindaklanjuti.
Dari sudut pandang jurnalistik, program pemurnian Itik Kerinci merupakan langkah ambisius sekaligus strategis. Kunjungan dinas hari ini menjadi bukti bahwa pemerintah tidak hanya melihat dari balik meja, tetapi benar-benar hadir untuk memastikan progres nyata di lapangan.
Di akhir kunjungan, Osra kembali menegaskan komitmen jangka panjang pemerintah.
“Ini bukan pekerjaan sehari dua hari. Tapi dengan pendampingan yang konsisten dan dukungan semua pihak, saya yakin Itik Kerinci akan kembali menjadi kebanggaan daerah,” tutupnya.
Kunjungan ini memberikan pesan kuat bahwa pemurnian Itik Kerinci bukan sekadar program teknis, melainkan bagian dari upaya besar pemerintah dalam menjaga identitas genetik daerah sekaligus meningkatkan ekonomi masyarakat.
(Rgk)












Discussion about this post