SEKATO.ID, KERINCI – Kerinci tidak hanya tentang pemandangan alam yang memanjakan mata. Di balik megahnya Gunung Kerinci yang menjulang hingga 3.805 meter di atas permukaan laut (mdpl), tenangnya Danau Kerinci, serta hamparan kebun teh Kayu Aro yang telah dikenal hingga mancanegara, tersimpan kekayaan lain yang jauh lebih dalam: kebudayaan.
Di lembah yang dikelilingi pegunungan ini, Suku Kerinci sebagai masyarakat asli telah membangun peradaban yang diwariskan dari generasi ke generasi. Adat, seni, tradisi, bahasa, hingga tata kehidupan masyarakat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan panjang Kerinci.
Bagi masyarakat Kerinci, budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu. Budaya masih hidup dan hadir dalam berbagai sisi kehidupan sehari-hari.
Budaya yang Hidup di Tengah Masyarakat
Perjalanan mengenal Kerinci tentu tidak akan lengkap jika hanya mengunjungi objek wisatanya.
Di sejumlah wilayah Kerinci masih dapat ditemukan peninggalan megalitikum, termasuk menhir yang menjadi jejak kehidupan masyarakat masa lampau.
Peninggalan tersebut menjadi bukti bahwa wilayah Kerinci memiliki sejarah dan peradaban yang panjang. Namun, warisan budaya Kerinci tidak hanya tersimpan dalam bentuk benda-benda peninggalan sejarah.
Tradisi Kenduri Sko hingga kini masih terus dilaksanakan di berbagai desa. Tradisi ini bukan sekadar seremoni adat, tetapi menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengenang leluhur, mempererat hubungan sosial, serta menjaga kesinambungan adat yang telah diwariskan turun-temurun.
Begitu pula dengan sistem Depati, yang hingga kini masih menjadi bagian penting dalam struktur adat masyarakat Kerinci.
Budaya juga hadir dalam berbagai momentum kehidupan. Dalam acara pernikahan, misalnya, Baju Koto Gadang dan Songket Kerinci dikenakan bukan sekadar sebagai pakaian, melainkan sebagai simbol identitas dan penghormatan terhadap adat. Dalam berbagai hajatan masyarakat, seni tari dan kesenian tradisional turut hadir mengiringi rasa syukur.
“Di Kerinci, hidup itu sudah ada pakemnya. Mau bertani ada doanya. Mau membangun rumah ada pantang larangnya. Mau menikah ada adatnya. Itu semua warisan leluhur yang harus kita jaga,” ujar Ibrahim, Pamong Budaya.
Pemkab Kerinci Dorong Pelestarian
Besarnya potensi budaya tersebut membuat Pemerintah Kabupaten Kerinci terus mendorong upaya pelestarian dan pendataan kebudayaan daerah.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kerinci, Jamal Penta, mengatakan sepanjang 2026 sejumlah langkah telah dilakukan untuk memperkuat pelestarian kebudayaan, salah satunya melalui pendataan kebudayaan yang dikemas dalam Pokok-Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD).
Menurutnya, pendataan menjadi bagian penting agar berbagai warisan budaya Kerinci tidak hanya dikenal oleh masyarakat saat ini, tetapi juga memiliki dokumentasi dan pijakan yang kuat untuk diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Tim Ahli Warisan Budaya sudah bekerja maksimal. Targetnya terus kita dorong hingga nantinya dapat ditetapkan melalui SK Bupati,” jelas Jamal Penta.
Langkah tersebut dinilai penting karena pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan mempertahankan tradisi.
Dokumentasi, pendataan, pengkajian dan pengakuan terhadap warisan budaya juga diperlukan agar identitas Kerinci memiliki dasar yang kuat di tengah perubahan zaman.
Generasi Muda dan Masa Depan
Budaya Kerinci
Pelestarian budaya juga membutuhkan keterlibatan generasi muda.
Di tengah derasnya pengaruh budaya modern, generasi muda Kerinci diharapkan tidak melihat adat dan tradisi sebagai sesuatu yang kuno. Sebaliknya, budaya harus menjadi identitas yang dibanggakan sekaligus dikembangkan dengan cara yang sesuai dengan perkembangan zaman.
Ketika anak muda mulai mengenakan pakaian adat, mempelajari tari tradisional, memahami sejarah leluhur, hingga terlibat dalam berbagai kegiatan kebudayaan, sesungguhnya mereka sedang mengambil bagian dalam menjaga masa depan Kerinci.
Karena itu, pelestarian budaya tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial. Budaya harus terus dikenalkan di sekolah, sanggar seni, komunitas, ruang publik, hingga sektor pariwisata.
Bukan Sekadar Negeri yang Indah
Alam dan budaya Kerinci sejatinya adalah dua kekuatan yang saling melengkapi.
Wisatawan mungkin datang karena ingin melihat Gunung Kerinci, menikmati kesejukan Kayu Aro atau menyaksikan keindahan Danau Kerinci. Namun, pengalaman itu akan menjadi jauh lebih bermakna ketika mereka mengenal masyarakat, adat, sejarah dan cerita yang hidup di balik bentang alam tersebut.
Kerinci akhirnya bukan sekadar destinasi untuk dilihat, tetapi sebuah wilayah yang untuk dikenal, dipahami dan dirasakan.
Dengan kekayaan alam yang luar biasa dan warisan budaya yang terus dijaga, Kerinci memiliki alasan kuat untuk memperkenalkan dirinya bukan hanya sebagai negeri dengan panorama menakjubkan, tetapi juga sebagai “Negeri Seribu Budaya.”
“Datanglah ke Kerinci. Jangan hanya lihat gunungnya. Duduklah, dengar ceritanya. Di sanalah Anda akan menemukan jiwa Kerinci yang sebenarnya.”
(Rgk)












Discussion about this post