SEKATO.ID, JAMBI – Di sebuah ruangan sederhana di Muara Sabak, belasan anak usia sekolah duduk bersila dengan mata berbinar. Di hadapan mereka, dua perempuan sepuh, Nenek Aisyah dan Nenek Rabi’ah, memperagakan cara memukul deretan gong kecil dari perunggu. Jemari mereka masih lincah, seolah waktu enggan merenggut ingatan yang tersimpan dalam setiap denting bunyi.
Pemandangan itu bukan sekadar latihan musik. Ini adalah misi penyelamatan darurat untuk sebuah tradisi yang nyaris hilang: Kelintang Perunggu, warisan budaya pesisir Jambi yang kini berada di ambang kepunahan.
Program revitalisasi ini digagas oleh Yayasan Gena Nusantara bekerja sama dengan Kementerian Kebudayaan melalui pendanaan Dana Indonesiana. Fokusnya jelas: memutus rantai kepunahan dengan cara paling hakiki pewarisan langsung dari maestro kepada generasi muda.
Tradisi di Ujung Senja
Kekhawatiran akan punahnya Kelintang Perunggu bukan isapan jempol. Ristanto, Peneliti Tradisi Lisan dari Balai Bahasa Sumatra Selatan, mengungkapkan hasil kajian vitalitas yang mencemaskan.
“Sebuah tradisi rentan punah karena jumlah maestro terus berkurang, pewaris minim, pementasan makin jarang, dan kepedulian komunitas memudar,” ujarnya di Muara Sabak Ilir, Sabtu (21/6/2025).
Indeks daya hidup Kelintang Perunggu tercatat hanya 0,40 — angka yang menandakan kondisi kritis. Padahal, kesenian ini bukan sekadar musik. Ia adalah satu kesatuan budaya yang memuat mantra, doa, dan narasi sejarah yang hidup dalam setiap ritme.
Masuknya hiburan modern dan perubahan gaya hidup membuat generasi muda makin jauh dari akar tradisinya. Jika tak ada langkah nyata, Kelintang Perunggu dikhawatirkan hanya akan menjadi benda pajangan museum tanpa lagi dipahami maknanya.
Belajar dengan Telinga dan Hati
Menyadari kondisi genting ini, Direktur Yayasan Gena Nusantara, Taufik Hidayat, memilih pendekatan berbasis komunitas.
“Kelintang Perunggu adalah tradisi lisan. Ilmunya tidak ada di buku, tapi di memori para maestro,” katanya.
Yayasan pun mempertemukan dua maestro terakhir dengan 15 siswa terpilih dalam workshop intensif. Mereka belajar melalui metode tradisional: melihat, mendengar, dan meniru.
“Kami tidak punya catatan. Anak-anak harus menggunakan telinga dan hati,” tutur Nenek Aisyah lembut.
Para siswa diajak merasakan getaran perunggu sebelum diperbolehkan memegang alat pemukul. Mereka mempelajari 21 irama tradisional, masing-masing punya fungsi sosial berbeda mulai dari menyambut tamu kehormatan, prosesi Malam Inai, hingga irama sakral yang dipercaya sebagai media komunikasi spiritual.
Bagi Nenek Rabi’ah, pelajaran terpenting bukan hanya soal teknik.
“Kelintang tidak bisa dimainkan sendiri. Ia harus selaras. Kalau satu orang egois, suaranya sumbang. Begitu juga hidup bermasyarakat,” pesannya.
Tradisi yang Kembali Membumi
Hasilnya mulai terlihat. Para siswa tak hanya mampu memainkan irama lama, tapi juga berkolaborasi dengan seniman tari dan teater untuk menciptakan pertunjukan yang relevan bagi generasi sekarang tanpa merusak pakem asli.
Puncaknya terjadi pada pergelaran akbar Juni 2025 di Gedung Nasional Marga Sabak. Gedung yang biasanya sepi mendadak dipenuhi ratusan warga. Saat 15 penutur muda tampil bersama para maestro, suasana haru menyelimuti ruangan.
“Masyarakat seperti diingatkan bahwa mereka punya harta karun budaya,” kata Taufik.
Program ini juga menghasilkan dokumentasi audio-visual berkualitas tinggi yang kini diunggah ke platform digital agar bisa menjadi bahan ajar dan referensi luas.
Tantangan Masih Panjang
Meski memberi harapan baru, perjuangan belum selesai. Instrumen Kelintang Perunggu yang terbuat dari perunggu murni jumlahnya terbatas. Minat generasi muda pun harus terus dipupuk agar tidak berhenti di satu angkatan.
Ristanto menegaskan pentingnya dukungan pemerintah daerah.
“Modelnya sudah ada. Kini saatnya pemerintah menganggarkan secara rutin dan memasukkan Kelintang Perunggu dalam kurikulum muatan lokal,” tegasnya.
Kini, masa depan Kelintang Perunggu berada di tangan 15 anak muda yang telah ditempa langsung oleh para maestro. Mereka bukan sekadar pemain musik, melainkan penjaga ingatan kolektif pesisir Jambi.
Denting perunggu yang dulu nyaris padam kini kembali bergema di Sabak bukan sebagai suara perpisahan, tetapi sebagai suara kebangkitan.Sebuah pengingat bahwa tradisi hanya akan hidup jika dicintai, dipelajari, dan dimainkan oleh generasi penerusnya.
(*/IMG)












Discussion about this post