• Sekato
  • Disclaimer
  • Kode Etik
  • Pedoman
  • Redaksi
  • Perlindungan
  • BUDAYA
  • DAERAH
  • DUNIA
  • EKONOMI
  • HIBURAN
  • HUKUM
  • KOMUNITAS
  • LINGKUNGAN
  • NASIONAL
  • OLAHRAGA
  • OPINI
  • PEMERINTAHAN
  • PLESIRAN
  • POLITIK
  • RAGAM
  • SAINS
Umum dan Segalanya
No Result
View All Result
Umum dan Segalanya
No Result
View All Result
  • BUDAYA
  • DAERAH
  • DUNIA
  • EKONOMI
  • HIBURAN
  • HUKUM
  • KOMUNITAS
  • LINGKUNGAN
  • NASIONAL
  • OLAHRAGA
  • OPINI
  • PEMERINTAHAN
  • PLESIRAN
  • POLITIK
  • RAGAM
  • SAINS

Di Ujung Denting Kelintang Perunggu, Anak-Anak Sabak Menjaga Ingatan Leluhur 

Editor Miftahurrahmah
28/01/2026
in BUDAYA
A A
0
PostTweetSendShareScan

SEKATO.ID, JAMBI – Di sebuah ruangan sederhana di Muara Sabak, belasan anak usia sekolah duduk bersila dengan mata berbinar. Di hadapan mereka, dua perempuan sepuh, Nenek Aisyah dan Nenek Rabi’ah, memperagakan cara memukul deretan gong kecil dari perunggu. Jemari mereka masih lincah, seolah waktu enggan merenggut ingatan yang tersimpan dalam setiap denting bunyi.

Pemandangan itu bukan sekadar latihan musik. Ini adalah misi penyelamatan darurat untuk sebuah tradisi yang nyaris hilang: Kelintang Perunggu, warisan budaya pesisir Jambi yang kini berada di ambang kepunahan.

Program revitalisasi ini digagas oleh Yayasan Gena Nusantara bekerja sama dengan Kementerian Kebudayaan melalui pendanaan Dana Indonesiana. Fokusnya jelas: memutus rantai kepunahan dengan cara paling hakiki pewarisan langsung dari maestro kepada generasi muda.

Tradisi di Ujung Senja

Kekhawatiran akan punahnya Kelintang Perunggu bukan isapan jempol. Ristanto, Peneliti Tradisi Lisan dari Balai Bahasa Sumatra Selatan, mengungkapkan hasil kajian vitalitas yang mencemaskan.

“Sebuah tradisi rentan punah karena jumlah maestro terus berkurang, pewaris minim, pementasan makin jarang, dan kepedulian komunitas memudar,” ujarnya di Muara Sabak Ilir, Sabtu (21/6/2025).

Baca juga

Meyakini Tanjab Timur sebagai Gerbang Peradaban Melayu, Bupati Romi Bertekad Menghimpun Bukti-bukti Sejarah

Indeks daya hidup Kelintang Perunggu tercatat hanya 0,40 — angka yang menandakan kondisi kritis. Padahal, kesenian ini bukan sekadar musik. Ia adalah satu kesatuan budaya yang memuat mantra, doa, dan narasi sejarah yang hidup dalam setiap ritme.

Masuknya hiburan modern dan perubahan gaya hidup membuat generasi muda makin jauh dari akar tradisinya. Jika tak ada langkah nyata, Kelintang Perunggu dikhawatirkan hanya akan menjadi benda pajangan museum tanpa lagi dipahami maknanya.

Belajar dengan Telinga dan Hati

Menyadari kondisi genting ini, Direktur Yayasan Gena Nusantara, Taufik Hidayat, memilih pendekatan berbasis komunitas.

“Kelintang Perunggu adalah tradisi lisan. Ilmunya tidak ada di buku, tapi di memori para maestro,” katanya.

Yayasan pun mempertemukan dua maestro terakhir dengan 15 siswa terpilih dalam workshop intensif. Mereka belajar melalui metode tradisional: melihat, mendengar, dan meniru.

“Kami tidak punya catatan. Anak-anak harus menggunakan telinga dan hati,” tutur Nenek Aisyah lembut.

Para siswa diajak merasakan getaran perunggu sebelum diperbolehkan memegang alat pemukul. Mereka mempelajari 21 irama tradisional, masing-masing punya fungsi sosial berbeda mulai dari menyambut tamu kehormatan, prosesi Malam Inai, hingga irama sakral yang dipercaya sebagai media komunikasi spiritual.

Bagi Nenek Rabi’ah, pelajaran terpenting bukan hanya soal teknik.

“Kelintang tidak bisa dimainkan sendiri. Ia harus selaras. Kalau satu orang egois, suaranya sumbang. Begitu juga hidup bermasyarakat,” pesannya.

Tradisi yang Kembali Membumi

Hasilnya mulai terlihat. Para siswa tak hanya mampu memainkan irama lama, tapi juga berkolaborasi dengan seniman tari dan teater untuk menciptakan pertunjukan yang relevan bagi generasi sekarang tanpa merusak pakem asli.

Puncaknya terjadi pada pergelaran akbar Juni 2025 di Gedung Nasional Marga Sabak. Gedung yang biasanya sepi mendadak dipenuhi ratusan warga. Saat 15 penutur muda tampil bersama para maestro, suasana haru menyelimuti ruangan.

“Masyarakat seperti diingatkan bahwa mereka punya harta karun budaya,” kata Taufik.

Program ini juga menghasilkan dokumentasi audio-visual berkualitas tinggi yang kini diunggah ke platform digital agar bisa menjadi bahan ajar dan referensi luas.

Tantangan Masih Panjang

Meski memberi harapan baru, perjuangan belum selesai. Instrumen Kelintang Perunggu yang terbuat dari perunggu murni jumlahnya terbatas. Minat generasi muda pun harus terus dipupuk agar tidak berhenti di satu angkatan.

Ristanto menegaskan pentingnya dukungan pemerintah daerah.

“Modelnya sudah ada. Kini saatnya pemerintah menganggarkan secara rutin dan memasukkan Kelintang Perunggu dalam kurikulum muatan lokal,” tegasnya.

Kini, masa depan Kelintang Perunggu berada di tangan 15 anak muda yang telah ditempa langsung oleh para maestro. Mereka bukan sekadar pemain musik, melainkan penjaga ingatan kolektif pesisir Jambi.

Denting perunggu yang dulu nyaris padam kini kembali bergema di Sabak  bukan sebagai suara perpisahan, tetapi sebagai suara kebangkitan.Sebuah pengingat bahwa tradisi hanya akan hidup jika dicintai, dipelajari, dan dimainkan oleh generasi penerusnya.

(*/IMG)

Tags: Alat Musik TradisionalBudaya Pesisir JambiKelintang PerungguSabakYayasan Gena Nusantara
Previous Post

Peduli Terhadap Jaminan Kesehatan, Pemkot Jambi Raih Penghargaan UHC 2026 Kategori Pratama

Next Post

Ketua DPRD, Rahmad Hasrofi, Menghadiri Musrenbang dan RKPD di Kecamatan Batin XXIV Tahun Anggaran 2027

Artikel terkait

BUDAYA

Empat Hari Menyelami Warisan Leluhur, Festival Budaya Kerinci 2026 Segera Digelar

02/10/2026
2k
BUDAYA

Mendorong Pelestarian Partisipatif di Situs Candi Pematang Jering

21/08/2026
2k
Oplus_16908288
BUDAYA

Kerinci Menyimpan “Museum” Prasejarah di Alam Terbuka

15/08/2026
2k
BUDAYA

LAM Pelayangan Torehkan Sejarah Baru, Juara Umum Lomba Seloko Kota Jambi 2026

09/07/2026
2k
BUDAYA

Gubernur Al Haris Dianugerahi Gelar Adat Kehormatan Depati Amanah Negroi Tanoh Sunge Pnoh 

04/07/2026
2k
Next Post

Ketua DPRD, Rahmad Hasrofi, Menghadiri Musrenbang dan RKPD di Kecamatan Batin XXIV Tahun Anggaran 2027

Kerinci Bergerak Hijau! Bupati Monadi–Wabup Murison Hadir Langsung di Gerakan Tanam Pohon Serentak

Kota Jambi Percepat Program Makan Bergizi Gratis, BGN RI Perkuat Dukungan Teknis dan Ekonomi Lokal

Badan Kehormatan DPRD Muaro Jambi Lakukan Konsultasi Terkait Peningkatan Kapasitas ke DPRD Kota Bata

Ketua DPRD Kota Jambi Hadiri Undangan Paparan Wali Kota Jambi

Discussion about this post

Kalender

October 2026
SMTWTFS
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
« Sep    

Populer

    DISCLAIMER | KODE ETIK | PEDOMAN MEDIA SIBER | REDAKSI | SOP PERLINDUNGAN WARTAWAN

    © 2024 SEKATO.ID - Jalan HM Yusuf Singedekane, Lorong Purnawira, No 7, RT 21, Telanaipura, Kota Jambi. Kode Pos 36122. Developed by Ara.

    • Sekato
    • Disclaimer
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Redaksi
    • Perlindungan

    © 2020 Sekato - Jalan HM Yusuf Singedekane, Lorong Purnawira, No 7, RT 21, Telanaipura, Kota Jambi. Kode Pos 36122. Developed by Ara.

    Mami188 | Vip555 | Dewi11 | Megasloto | Mega777 | Dewihoki | Mega338 | Megawin188 | Koko5000 | Ledak388 | Mega288 | Surga11 | Bighoki | Visitorbet | Rajalangit77 | Surga77 | Maxwin288 | Nagawin | Koko303 | Apigacor88 | Surga88 | Musangwin | Katakwin | Purislot | Indobet | Ratu303 | Surgaplay | Megawin777 | Supraslot | Semutwin | Interwin | Vip288 | Dewi288 | Ganas33 | Ovo88 | Satset138 | Api5000 | Mamen123 | Api33 | Vip333 | Kombo88 | Api88 | Megawin288 | Tumi123