SEKATO.ID | JAMBI- Partai Gerindra di Provinsi Jambi mengeluarkan pernyataan kritis terhadap kinerja sistem Sirekap Komisi Pemilihan Umum (KPU). Gerindra menyoroti berbagai kekhawatiran yang dapat memicu kehebohan serta masalah dalam perhitungan suara.
Sistem yang diharapkan bisa mempercepat dan memperjelas hasil pemilu, kini justru menjadi sorotan karena dianggap tidak mampu menggambarkan realitas suara yang sebenarnya.
Menurut Syahbandar, salah satu tokoh penting di Partai Gerindra Provinsi Jambi, keberadaan Sirekap hanya akan menimbulkan keguncangan di internal calon legislatif (Caleg).
Si rekap akan memicu ketidakstabilan dan kekhawatiran di tengah proses yang seharusnya berjalan transparan dan adil.
“Kami melihat banyak data yang tidak sesuai yang terupload, dan ini jelas memicu ketegangan, terutama ketika tim kami sedang bekerja keras di lapangan,” ungkap Syahbandar, menyoroti pentingnya integritas data dalam setiap tahapan pemilu.
Kecemasan ini mendorong Partai Gerindra Provinsi Jambi untuk mengambil langkah tegas dengan meminta KPU segera menghentikan proses penayangan Sirekap. Tindakan ini dianggap sebagai langkah preventif untuk menghindari potensi masalah yang lebih besar, yang tidak hanya berdampak pada partai tetapi juga pada kepercayaan publik terhadap sistem pemilu di Indonesia.
Mantan Pimpinan DPRD Provinsi Jambi ini juga menambahkan bahwa, Real Count yang dilakukan oleh KPU datanya sangat jomplang dengan data C1 yang dimiliki oleh saksi Partai Gerindra Provinsi Jambi utamanya di caleg DPR RI.
Kemudian, untuk di tingkat Kabupaten Kota dan Provinsi adanya ketidak sesuaian antara suara Caleg, Partai dan total yang dihitung termuat di Real Count KPU.
“Nanti jangan ada pihak yang merasa menang rupanya kalah, kemudian menyalahkan KPU dan merasa dicurangi, ini kan yang sama-sama kita hindari,” tegasnya.
Saat ini kata Syahbandar, pihaknya masih berfokus untuk melakukan rekapitulasi suara Partai dan Caleg Gerindra berdasarkan Form C1 yang mereka miliki. Saksi Partai Gerindra yang merata di Provinsi Jambi membuat Syahbandar yakin bahwa data yang benar ada di C1 mereka.
“Nanti kita bandingkan saja datanya dengan C1 kita, saat ini kami masih fokus meminta kepada semua elemen Gerindra untuk mengawal perhitungan suara ditingkat PPK,” tegasnya.
Lebih lanjut, Syahbandar menyampaikan bahwa, berdasarkan tabulasi internal yang telah masuk, calon legislatif DPR RI dari Partai Gerindra, Sutan Adil Hendra, telah memperoleh suara tertinggi di internal Gerindra. Hal ini menandakan adanya ketidaksesuaian antara data internal partai dengan apa yang ditampilkan oleh Sirekap, mempertegas kekhawatiran yang telah disampaikan.
“Kami di Gerindra berharap adanya akurasi dan transparansi dalam proses pemilu. Di tengah era digitalisasi, di mana teknologi seharusnya mendukung keadilan dan kecepatan informasi, muncul pertanyaan bagaimana kita memastikan bahwa setiap suara dihitung dengan benar dan setiap data yang terkumpul mencerminkan kehendak rakyat dengan akurat?”tegasnya.(*)












Discussion about this post